Diminta Sebuah Pertanggung Jawaban

Meeting Kantor

Sore tadi saya dipanggil oleh direct boss untuk menghadiri senior management meeting dadakan dengan managing director perusahaan kami. Saya sempat bertanya kepada boss saya yang adalah seorang senior manager di department kami, mengenai agenda meeting tersebut. Namun sayangnya dia hanya memberikan sedikit sekali informasi. “Nanti ada bagian yang butuh diklarifikasi mengenai project implementation” begitu saja hints yang dia berikan. Memang sebagai seorang operations manager, salah satu portfolio saya adalah memimpin project implementation team yang terdiri dari sekelompok project managers dan project officers. Jujur saya katakan siang ini saya tidak memiliki banyak waktu persiapan karena sebelumnya juga harus sibuk menghadiri beberapa meeting penting lainnya.

Pada waktu jam 3 sore saya, head of department, dan beberapa manager lainnya sudah berada di meeting room. Total ada 12 orang di sana dan kita menunggu big boss (managing director) untuk memulai pertemuan. Saya perhatikan wajah – wajah semua orang di ruangan meeting tersebut terlihat tegang. Waktu menunggu yang ada saya gunakan untuk bertanya kepada manager – manager lainnya mengenai agenda meeting. Ternyata tidak sedikit yang tidak tahu – menahu apa yang akan dibicarakan nanti. Namun puji Tuhan ada satu manager yang duduk di depan saya tahu akan agendanya dan dia dengan murah hati memberitahukannya kepada saya. Waduh… ternyata meeting itu adalah sebuah shooting arena meeting (pertemuan lapangan tembak)… maksudnya big boss (managing director) akan menembak kita semua dengan caci maki… meminta pertanggung jawaban dari kita semua sebagai para manager. Sambil tersenyum saya berbisik kepada seorang manager di sebelah kiri saya… “wah… saya belum siap apa – apa nih… kalau tahu begini dari tadi sudah saya pakai dulu baju anti peluru”.

Jam dinding menunjukkan pukul 3.10 sore ketika big boss memasuki ruangan. Saat itu beberapa manager sedang sibuk berdebat dan melobi satu sama lain supaya mereka “sing the same song” (ceritanya klop tidak saling bertentangan). Big boss kemudian menggebrak meja sehingga semua orang terdiam dan seperti seorang hakim menggetok palu… demikianlah PERSIDANGAN DIMULAI. Di layar presentasi ditampilkan agenda pertemuan… Mata saya langsung melotot melihat topik pembicaraan nomor dua menyebut – nyebut salah satu customer yang menjadi tanggung jawab saya yakni “General Electric (GE)”. “Duh… semua bahan tidak saya persiapkan… ini mah siap – siap saja dieksekusi hari ini” demikian gumam saya.

Boss MarahBenar saja… pertemuan tersebut boleh dibilang BRUTAL. Big boss menyikat semua orang tanpa pandang bulu. Yang pertama disemprot adalah kepala departmen saya (2 level di atas saya)… “I DON’T CARE… I WANT YOU TO BE RESPSONSIBLE… HOW CAN YOU LET THIS HAPPEN” demikian cetus big boss dengan nada tinggi. Untuk pertama kalinya saya melihat kepala departemen terdiam seperti anak kecil habis dicaci maki oleh big boss dan dipaksa mengakui kesalahannya. Setelah itu giliran Business Manager kena semprot… padahal menurut saya business manager ini tidak ada salah apa – apa… “YOUR HAVE MADE MISTAKE !!!” demikian kata big boss. Setelah itu dia mengecek billing team, dan tim – tim lainnya… dan sama saja semuanya kena semprot.

Kemudian giliran saya… “project implementation… who is responsible for this ?” Direct boss saya berkata “ini bagiannya Handy”, dan semua mata di ruangan meeting melihat saya. Pertanyaan boss pertama “How do you know your team is on track ?” Dan gua jawab sesuai dengan prosedur yang ada yakni melalui laporan mingguan. Big boss terus tanya sampe mendalam… bener – bener dikorek… sepertinya dia belum puas sebelum menemukan kesalahan saya. Dan memang ada satu kesalahan saya… yakni head of department saya tidak tahu (has no visibility) mengenai masalah proyek… yang semuanya diredam di level saya.  Big boss kemudian menasehati saya untuk mengirimkan laporan mingguan saya juga kepada head of department dan senior manager (direct boss) saya.

Dibandingkan yang lain… boleh dibilang saya sih tidak dimaki – maki… dan puji Tuhan ketika pukul 4.45 sore saya minta ijin meninggalkan meeting yang panas tersebut karena pukul 5 saya ada teleconfrence dengan tim regional dari Australia. Sambil meninggalkan ruangan meeting di lantai 37, saya hanya bisa merenung. Sebenarnya maksud big boss saya itu baik. Adalah tugas dan tanggung jawab dia sebagai MD terhadap para chairman perusahaan dan pemegang saham, untuk memastikan perusahaan kami tetap menghasilkan keuntungan yang cukup. Ketika ada masalah seperti sekarang ini… maka dia harus dengan segera menggunakan otoritasnya untuk membereskan permasalahan yang ada. Sebagai big boss dia hanya meminta SEBUAH PERTANGGUNG JAWABAN.

Tanggung Jawab

Di dalam Matius 25:14-30, Alkitab menceritakan sebuah perumpamaan mengenai seorang tuan yang mempercayakan talenta kepada para hambanya. Tuan itu hendak berpergian ke luar negeri dan dia berharap para hambaNya akan mengerjakan talenta yang ada sehingga menghasilkan suatu keuntungan. Ketika sang tuan kembali dari perjalanannya dia menemui para hambanya lagi. Alkitab menulis sang tuan MENGADAKAN PERHITUNGAN dengan para hambanya, ini sama saja berarti sang tuan MEMINTA SEBUAH PERTANGGUNG JAWABAN dari para hambanya.

Ternyata ajaran Kerajaan Allah yang Tuhan Yesus ajarkan (Matius 25:14-30) sangat menekankan masalah TANGGUNG JAWAB. Kalau kita mau gali lagi, ternyata di kitab Kejadian juga ditulis loh bahwa Tuhan memberikan kepada Adam SEBUAH TANGGUNG JAWAB, yakni untuk MENGUSAHAKAN Taman Eden. Taman itu adalah sebuah taman yang penuh dengan kehidupan… dan tanggung jawab ini adalah sebuah perwakilan dari ide pokok bahwa ALLAH MENGHENDAKI ADAM UNTUK MENGUSAHAKAN KEHIDUPAN.

Kejadian 2:15 – “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”.

Taman Eden

Jadi TANGGUNG JAWAB adalah sesuatu yang Tuhan TUNTUT dari setiap umatNya. Begitu pula ketika Adam jatuh ke dalam dosa… Tuhan datang menghampirinya untuk MEMINTA SEBUAH PERTANGGUNG JAWABAN. Kalau kita gali lebih dalam lagi… KENAPA SIH Tuhan MEMINTA SEBUAH PERTANGGUNG JAWABAN KEPADA MANUSIA ? Jawabannya adalah KARENA TUHAN SUDAH MEMBERIKAN MANUSIA KEMAUAN BEBAS (FREE WILL) untuk memilih apa pun yang ia ingin lakukan di dalam hidup ini. Meminta sebuah pertanggung jawaban adalah mekanisme perlindungan Tuhan supaya manusia tidak jatuh di dalam kebebasannya sendiri. Coba deh saudara renungkan dalam – dalam.

Sama seperti big boss saya yang meminta pertanggung jawaban, demikian juga Tuhan hari ini bertanya kepada setiap dari kita “APAKAH KAMU SUDAH MENJALANI HIDUPMU DENGAN BERTANGGUNG JAWAB ?” Hari ini saya baru dengar kalau calon mertua seorang sahabat saya sudah meninggal… kalau boleh saya hubungkan… kalau seandainya Tuhan memanggil kita melalui kematian pada hari ini… apakah saudara dan saya siap MEMPERTANGGUNG JAWABKAN HIDUP INI ? Mari kita sama – sama introspeksi diri kita masing – masing. Tuhan Yesus memberkati 🙂


Ditulis oleh Handy Tirta Saputra – tanggal 21 Februari 2012.
Tidak ada hak cipta. Silahkan dikopi dan disebarluaskan.
Segala hormat dan pujian hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus yang kita kasihi dan taati.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

ARTIKEL LAIN YANG TERKAIT:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *