Kesaksian Benjamin: Untuk Sekian Kalinya Gua Jatuh Lagi Ke Dalam Dosa Seksual

Pelacur JalananBeberapa hari yang lalu seorang temen gua menelpon dan ngajak untuk ketemuan. Dengan nada sedih di telepon dia berkata “Han… gua kepengen ketemu loe buat ngobrol – ngobrol nih. Gua jatuh lagi Han… gua tidur lagi dengan pelacur“.

Saat itu sebenarnya gua lagi sibuk – sibuknya bikin tabloid dan beberapa pekerjaan lainnya. Namun gua percaya segala sesuatu terjadi bukanlah karena sebuah kebetulan. Singkat cerita gua memutuskan untuk bertemu dengan “hopeng” gua ini pada malam harinya. Di dalam hati gua berdoa “Tuhan bantu diriku untuk bisa menjadi seorang pendengar yang baik”.

Anggaplah namanya Benjamin. Dia sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamatnya, masih single, pernah ikut pria sejati, namun berkali – kali masih bergumul dengan dosa seksual. Bersama dengan Benjamin gua semakin diingatkan mengenai kelemahan gua sendiri, karena sebagai lelaki kita kerap kali mengalami tantangan dan godaan yang serupa meski konteks maupun ruang lingkupnya bervariasi. Malam itu sambil makan es kacang di Plaza Singapura, kita ngobrol – ngobrol mulai dari hal – hal yang ringan seperti masalah pekerjaan dan hobi. Tapi kurang dari 5 menit akhirnya dia membawa gua masuk ke dalam topik utama yang sudah gua nantikan semenjak siang hari. Sepertinya dia sudah tidak tahan mengungkapkan kegelisahannya.

Dia kemudian memulai kronologis ceritanya yang sepertinya sudah dia persiapkan dengan baik… APA, DIMANA, SIAPA, KAPAN, dan MENGAPA diungkapkannya secara sistematis.  Secara jujur dan gamblang dibukanya lembaran demi lembaran peristiwa yang telah terjadi. Sementara itu gua mencoba mendengarkan dia dengan seksama sambil sesekali meminum es kacang yang sudah mulai melumer. Dengan nada sedih Benjamin kemudian mengakhiri ceritanya “gua merasa sedih… gua merasa gak layak nih Han… gua kok jatuh terus – menerus yah“. Gua cuma bisa diam saja sambil berpikir kira – kira kata – kata apa yang tepat untuk diucapkan. Sungguh ini adalah hal yang tidak mudah… banyak dari kita mengerti soal teori apa yang seharusnya kita perbuat… tapi dalam praktek dan kenyataannya tetap saja kita menemukan saat dimana kita jatuh dalam kesalahan dan dosa.

Gua merasa Benjamin mengasihi Tuhan Yesus, karena jikalau tidak maka dia tidak akan merasa menyesal. Sebagai seorang saudara seiman gua juga gak mau menambahkan rasa bersalah dan gelisahnya, yang sudah ditunggangi oleh si iblis dengan maksud tujuan menjauhkan hopeng gua ini dari kasihNya Tuhan. “Bro,  loe sadar kalau yang loe perbuat itu salah ?” tanya gua kepadanya dengan tenang. Dan dengan sedikit mendesah dia berkata “of course lah bro”. “Kalau gitu ditinggalin aja bro kebiasaan itu… loe cari kegiatan lain yang bermanfaat” demikian saran gua secara praktis. “Ehmmm… gak segampang itu bro” jawabnya pesimis. Dan dia kemudian memaparkan berbagai alasan  panjang mengapa dia tidak bisa berubah.

Harus gua akui semua yang dia katakan adalah masuk akal. Dan  saat itu bukan pertama kalinya gua mendengar alasan – alasan tersebut terucap dari mulut bibir Benjamin. Tetapi gua juga menyadari bahwa tanpa kita sadari kerap kali kita sebagai manusia memang cenderung mencari – cari alasan untuk memegang status quo ketika ditantang untuk berubah. Karena perubahan mengandung elemen ketidak pastian, dan beberapa kenikmatan / kenyamanan mungkin harus kita lepaskan. Akhirnya setelah lama mendengarkan penjelasan dia, di benak gua berkesimpulan bahwa hopeng gua ini hanya ingin melepaskan rasa bersalahnya dengan mengakui kesalahannya tetapi dia tetap tidak mau berubah. Tentunya  yang ini tidak gua utarakan langsung ke dia.

Jadi pertanyaannya apa sih yang membuat seseorang berubah ? Gua pernah dengar dari seorang pakar motivasi bahwa manusia akan berubah entah karena keinginan untuk meraih kenikmatan atau melarikan diri dari penderitaan. Walau ini semua ada benarnya, malam itu gua tidak membawa hopeng gua ke dalam arah pembicaraan ke sana. Gua mencoba membawa dia ke dalam pembicaraan mengenai “tujuan” (purpose). Gua tanya sama dia dengan gentle “bro… is this what you want (APAKAH INI YANG LOE MAU) ?”. “Karena kalau loe hanya mau mengejar kenikmatan… loe sudah mendapatkannya dengan tidur sama para pelacur itu. Sebagai teman gua ga ada hak untuk memojokkan loe seakan – akan gua ini yang suci. Dan loe juga gak usah merasa bersalah. ” demikian tambah gua. IS THIS WHAT YOU REALLY WANT ?” sekali lagi gua tekankan.

Dia kemudian terdiam… sambil memandang meja. Gua tahu benar dia sedang menyelidiki sisi emosi di dalam dirinya… dan akhirnya setelah sempat terhening beberapa saat dia berkat “no, this is not what I want (tidak, ini bukan yang gua mau)”. Puji Tuhan… saat itu gua rasakan ada kejujuran mengalir dari bibirnya… gua percaya itu adalah kuasa Roh Kudus yang mengubahkan hati manusia. Gua sambut pengakuannya dengan baik dan gua ingatkan lagi kepadanya mengenai TUJUAN HIDUP dan gua juga tambahkan bagaimana ALLAH SELALU BERKUASA DALAM SITUASI APA PUN JUGA… EVEN IN OUR MESS (DI DALAM RUMITNYA KESALAHAN YANG KITA BUAT SENDIRI).

Akhirnya kita berdua berkesimpulan bahwa… kita gak bisa jalani hidup ini tanpa arah tujuan yang jelas. Kita butuh sebuah jalan. Itulah sebabnya dikatakan:

Yohanes 14:6 – Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Tak perduli seberapa mahirnya kita berteologi… TANPA YESUS KITA TIDAK BISA APA – APA deh. Dan resolusi yang Benjamin ambil malam itu adalah “Han… gua mau mulai melakukan segala sesuatunya buat Yesus lagi… gak perduli seberapa kecilnya”. Saat kalimat tersebut dilontarkan… seakan – akan gua mendengar suara Tuhan Yesus  sendiri berbicara kepada gua menggunakan lidah dan bibir hopeng gua ini. Puji Tuhan… malam itu… 2 orang manusia yang sungguh jauh dari kata sempurna… bisa menyadari akan kebaikan dan kebesaran kuasa Tuhan yang tidak terbatas.


Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanya bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Nama sengaja disamarkan untuk melindungi privasi. Dengan seijin orang yang bersangkutan kesaksian ini ditulis dan dipublikasikan.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI
Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

ARTIKEL LAIN YANG TERKAIT:

2 thoughts on “Kesaksian Benjamin: Untuk Sekian Kalinya Gua Jatuh Lagi Ke Dalam Dosa Seksual

  1. Kl heterosex kembali ke jalan benar itu gampang amat,, tantanganx ƍάќ seberat kl homosex Ÿª♌g ingin kembali ke jln benar,, asal nyebut nama Tuhan,, psti godaanx lari,,krn memang Tuhan serius nangani org hetero,, beda dgn homo,, gak serius2 amat,,

    • pada dasarnya baik homo maupun hetero kalau sudah masuk ke dalam tahap terikat atau kecanduan itu sulit untuk lepas. Bahkan hampir mustahil untuk lepas dengan kekuatan diri sendiri. Itulah sebabnya kita butuh pertolongan dari Tuhan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *