Pelayanan Di Marketplace

Ardian E Kristanto - Komo Antakon - Ken - FGBMFI World Convention 2012 - PenulisHidupku.Com - 1

Brother Ardian, Komo Antakon, dan Ken

Demikian adalah sharing yang dibagikan oleh brother Komo Antakon, Ken, dan Ardian E. Kristanto mengenai marketplace menistry (pelayanan di marketplace).

MEMBANGUN FONDASI
oleh pak Komo Antakon

Fondasi - PenulisHidupku.Com - 1

Tuhan memanggil kita para pengusaha di dalam wadah FGBMFI (Full Gospel Business Men Fellowship International) untuk melayani di marketplace. Untuk itu kita harus memiliki fondasi yang kuat dan sama seperti sebuah bangunan, ini adalah bagian termahal yang harus kita bayar. Apa pun itu entah bisnis, bangunan, keluarga, dan lainnya akan runtuh kalau fondasinya tidak kuat. Apa yang menjadi fondasi kita ? Fondasi kita adalah FIRMAN TUHAN. Sebagai anggota FGBMFI kita harus membaca Firman Tuhan setiap hari. Dan tidak hanya berhenti di sana, kita juga harus melakukan apa yang Firman Tuhan katakan. Kalau oleh karena kelemahan kita tidak mampu melakukan Firman tersebut, maka memintalah kepada Dia untuk diberikan kekuatan.

Setelah kita memiliki fondasi yang baik. Selanjutnya kita harus mengerti panggilan kita. Kita semua di tempat ini dipanggil menjadi seorang pengusaha karenanya kita berusahalah untuk menjadi yang terbaik. Mungkin ada yang terpanggil untuk menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu di gereja, biarlah saudara menjadi hamba Tuhan yang terbaik. Dengan mengerti panggilan kita, Tuhan akan kemudian menaruh visiNya di dalam setiap kita. Dia kemudian akan mengurapi kita sehingga kita dimampukan ketika kita melakukan pelayanan.

Jadi tahapan untuk menjadi pelayan Tuhan yang efektif adalah:

  • Membangun fondasi
  • Mengerti panggilan
  • Menangkap visi
  • Menerima urapan
  • Terjun ke dalam pelayanan

Seringkali kita tidak sabaran dan banyak dari kita yang langsung lompat ke dalam pelayanan. Hasilnya pun tidak maksimal karena kapasitas kita belum terbentuk. Oleh sebab itu di Full Gospel kita harus kembali berfokus kepada pembangunan fondasi. Dan pembangunan fondasi ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Kami ingin menghimbau saudara sekalian untuk setiap hari menghabiskan waktu sejam saja untuk membaca Alkitab dengan pola berikut: 5 pasal perjanjian lama + 5 pasal perjanjian baru + 5 pasal mazmur + 1 pasal Amsal. Dengan demikian Firman Allah yang hidup akan tumbuh dan berakar di dalam diri kita.

KESAKSIAN MENGENAI MEMBACA FIRMAN TUHAN

Mari kita dengarkan kesaksian singkat dari saudara kita dari Jepang mengenai bagaimana membaca Firman Tuhan bermanfaat bagi hidupnya.

Kesaksian Anggota FGBMFI Dari Jepang - PenulisHidupku.Com - 1Saya adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan yang bernama Panasonic. Saya bekerja di sana sudah lama dan suatu waktu karena krisis ekonomi, saya merasa begitu khawatir. Kebutuhan keluarga kami begitu besar terutama untuk membiayai sekolah anak – anak saya di universitas. Sepertinya saat itu saya menemukan jalan buntu, sampai akhirnya salah seorang saudara dari FGMBFI mengatakan untuk mulai membaca Alkitab. Dan itu saya mulai lakukan setiap hari karena saya pikir toh tidak ada salahnya mencoba. Ternyata Firman Tuhan yang saya baca itu tidak sia – sia. Perlahan – lahan Firman itu tertanam dalam diri saya sehingga saya mulai mengambil keputusan – keputusan yang benar dan sepertinya ada hikmat Tuhan yang menyertai saya.

Di tengah – tengah krisis dunia, tiba – tiba perusahaan saya memberikan saya promosi dengan gaji yang jauh lebih tinggi. Saya diberikan kepercayaan menangani situs Panasonic dunia. Ketika saya memegang posisi ini jumlah halaman dalam situs panasonic adalah sekitar 3,000 an halaman. Dan sekarang sudah berkembang menjadi lebih dari 22,000 halaman. Perusahaan saya begitu senang dan puas dengan pekerjaan saya. Saya semakin yakin bahwa membaca Firman Tuhan memberikan manfaat yang luar biasa di dalam usaha kita.

MENGERTI PANGGILAN
oleh pak Ardian E. Krisnanto

Tuhan Yesus - Bisnis - Marketplace - PenulisHidupku.Com - 1Kita semua harus mengerti apa yang menjadi panggilan kita. Saya hidup di tengah – tengah lingkungan gereja. Beberapa orang di dalam keluarga saya adalah hamba Tuhan sepenuh waktu di gereja, termasuk juga istri saya. Mereka seringkali berkata kepada saya kapan saya juga akan terjun sepenuh waktu. Dan juga menanyakan hal yang sama kepada anak saya. Saya berkata kepada mereka bahwa panggilan saya bukanlah melayani di gereja sepenuh waktu. Jiwa saya adalah jiwa seorang pengusaha dan saya bangga melayani Tuhan melalui cara ini.

Saya sungguh bersyukur atas wadah FGBMFI ini. Saya sudah berada di sini lebih dari 20 tahun dan saya melihat banyak pekerjaan Tuhan dikerjakan melalui wadah ini. Saya tidak tahu berapa tahun ke depan lagi saya masih bisa melayani di FGBMFI, dan saya pernah berpesan kepada istri saya bahwa jika Tuhan memanggil saya terlebih dahulu, di dalam peti mati saya ingin mengenakan pin FGBMFI. Bukan karena saya merasa fanatik dengan organisasi ini, tetapi karena organisasi ini telah memberikan banyak kepada saya. Melalui FGBMFI ini saya menemukan panggilan hidup saya.

Saya melihat ada beberapa anggota FGBMFI akhirnya memutuskan untuk menjadi gembala dan mendirikan gerejanya sendiri. Itu tidak salah, namun saya ingin menghimbau agar masing – masing mengintrospeksi apakah betul panggilannya adalah untuk menjadi seorang gembala. Karena kalau bukan ke sana arahnya, kita akan membawa jiwa pengusaha ke dalam gereja dan jadinya akan kacau balau. Karena kita akan menjalankan gereja seperti kita menjalankan bisnis.

Menjadi seorang pengusaha bukanlah sekedar untuk meningkatkan standar kesejahteraan kehidupan kita serta keluarga, melainkan juga untuk meningkatkan standar pemberian kita (to become a businessman is not just to raise our standard of living but also to raise standard of giving). Ada begitu banyak pelayanan di luar sana, dan setiap dari mereka membutuhkan biaya. Itulah panggilan kita sebagai seorang pengusaha, yakni untuk membiayai kegerakan Allah yang luar biasa di jaman ini. Kalau bukan kita siapa lagi ?

Setelah lama berada di FGBMFI, saya juga melihat banyak orang yang jatuh bangun. Menurut saya tantangan terbesar seorang pengusaha dalam melayani Tuhan adalah “kesombongan”. Seringkali setelah menjadi penyumbang dana terbesar di suatu gereja, kita menjadi sombong dan ingin mulai mengatur gembala. Ini adalah hal yang salah besar karena kita sudah menginjak teritori yang bukan menjadi wewenang kita. Itulah sebabnya berhubung dengan kesombongan ini, Tuhan akan memproses kita naik turun sampai kesombongan tersebut benar – benar terkikis dan kita bisa hidup berkenan di hadapanNya.

Saya berkeyakinan bahwa menjadi seorang pengusaha itu artinya kita menjadi jawaban untuk memberkati berbagai pelayanan yang ada. Marilah kita terlibat di dalam pelayanan ini di market place bersama – sama. Tuhan Yesus memberkati !

Tuhan Yesus dan Pengusaha Bisnis - PenulisHidupku.Com - 1


Diambil dari sesi sore konvensi dunia FGBMFI pada tanggal 27 Juli 2012.
Segala hormat, pujian, dan kemuliaan bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Share on Twitter

ARTIKEL LAIN YANG TERKAIT:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *