Diary 14 September 2012 – Hari Pertama Menemani Papi

Rumah Sakit Husada - PenulisHidupku.Com - 1Semalam gua gak bisa tidur dengan nyenyak, karena hampir setiap jam suster datang untuk monitor keadaan papi. Sekitar jam 6 pagi, suster sudah datang untuk memandikan (me-lap) papi sekaligus membersihkan kamar. Puji Tuhan gua merasa fit pada pagi ini, walaupun semalam sempat merasa kurang enak badan. Melalui mami pada pagi itu gua mendapatkan gambar yang lebih lengkap mengenai kejadian yang terjadi pada papi. Ternyata kemarin papi merasa tidak enak badan, dan paginya bersama dengan mami dia pergi ke dokter praktek syaraf. Papi masih merasa kuat bahkan dia yang menyetir mobil. Sesampai di dokter dan ketika berbincang – bincang suaranya mulai berubah dan terdengar cadel. Dari sana dokter mengatakan papi sudah mengalami serangan dan kemudian langsung disuruh ke rumah sakit. Karena record papi lengkapnya di RS Husada, maka mami membawa papi ke UGD RS Husada. Dan setelah itu langsung ditangani oleh dokter.

Setelah gua mendengar cerita dari mami, gua merasa bersyukur sekali, karena kejadiannya itu papi bersama dengan mami dan juga ada dokter di sana. Keadaan bisa saja lebih buruk, misalnya papi sedang menyetir mobil sendirian, atau sedang mandi, dsb. Gua semakin yakin bahwa Tuhan mengijinkan hal ini semua terjadi karena Ia memiliki maksud membawa kebaikan bagi kita semua. Setelah mami pergi ke toko, ie ie Ewa (cicinya mami) datang berkunjung dan membantu gua untuk memberikan papi makan. Papi masih sulit mengunyah daging – daging dan sayur – sayuran. Dan gua cicipi makanannya itu semua terasa hambar. Maklumlah namanya juga makanan rumah sakit hehehe. Saat itu terus terang gua merasa tenang dan damai sekali walau pun belum sempat bertemu dengan dokter yang menangani papi. Dari situ gua tahu bahwa ada Tuhan yang senantiasa menyertai dan selalu mengajak gua untuk semakin beriman kepada Tuhan Yesus. Dan pagi itu gua masih belum ada plan apa – apa. Gua cuma bisa percaya bahwa Tuhan yang akan menuntun kita semua mengenai apa yang harus kita lakukan.

Secara manusiawi, kita pun mulai menimbang beberapa hal. Yang pertama harus kita putuskan adalah apakah kita bisa membawa papi ke Penang karena ujung – ujungnya biaya perawatan juga sama dengan di Indonesia. Gua tanya kepada beberapa teman dan mereka semua menyarankan agar jangan dibawa ke sana karena resiko penerbangan bisa membuat kondisi papi memburuk. Dari sana kita sekeluarga setuju agar papi dirawat saja di Jakarta. Keputusan kedua yang harus kita buat adalah apakah harus diadakan operasi atau tidak. Dokter di RS Husada menjelaskan kepada gua bahwa papi tidak perlu dioperasi karena pendarahan di otaknya cukup besar (dan itu dipandang baik oleh dokter), dan akan pulih dengan sendirinya selama 2-3 bulan. Hal itu yang kita permasalahkan dan kami sekeluarga memutuskan untuk mengambil second opinion (opini kedua). Ketika teman – teman papi datang, mereka memberikan anjuran yang secara mujizat klop dengan masukan yang mami terima dari orang lain, yakni kita harus meminta opini dari seorang dokter. Dan yang lebih hebatnya lagi, kebetulan teman papi memiliki akses langsung dengan pimpinan rumah sakit dimana dokter tersebut berada. Singkat cerita pertemuan segera diatur dan gua harus segera bertemu dengan dokter tersebut di rumah sakit lain untuk opini kedua. Dokter yang merawat papi kemudian menyetujui kita ambil opini kedua, dan semua data – data papi (hasil city scan dan lab) gua bawa. Bersama dengan om Sujitra gua diantar ke rumah sakit Satya Negara di Sunter.

Tidak sampai 5 menit, kita sudah bisa langsung bertemu dengan dokter ahlinya, yang bernama Gunawan Santoso. Dokter tersebut benar – benar ahli dan dia menjelaskan panjang lebar sama seperti dosen. Dia menyimpulkan bahwa papi tidak perlu dioperasi namun sebaiknya citi scan kedua diambil dan hasilnya dibandingkan dengan yang pertama. Kalau terjadi pembesaran pendarahan barulah diambil tindakan berikutnya dan diputuskan akan dioperasi atau tidak. Dan dokter yang baik ini menjelaskan kepada gua dan om Sujitra hampir 20 menit. Gua merasa puas atas pemaparan logika dari sang dokter. Dari sana gua mendapatkan konfirmasi dari dokter sesuai dengan janji Tuhan bahwa papi akan baik – baik saja, dan juga akan kembali pulih dengan total. Gua juga menyimpulkan bahwa papi tidak sakit, melainkan sedang mengalami “kencan dengan Tuhan Yesus” sehingga ia bisa mengenal Dia secara pribadi. Keluarga gua pun merasa tenang bahwa operasi tidak diperlukan. Dan untuk membuat lebih mantap lagi, teman papi yang juga adalah ahli syaraf di Amerika juga menghubungi kita lewat telepon. Dia berkata bahwa kalau bisa operasi dihindari karena bagaimana pun juga operasi otak memiliki efek samping dan resiko.

Pada hari ini gua juga mendengar berita bahwa cici gua akan kembali ke Jakarta keesokan harinya (Sabtu malam)… wah jadi ngumpul – ngumpul lagi nih hehehe. Setelah 2 keputusan penting kita ambil, kemudian ada 1 keputusan lagi yakni apakah kita harus menetap di RS Husada atau pindah ke rumah sakit lain. Untuk yang ini gua mulai mencari tahu prosedur pemindahan pasien dan ternyata ada 2 macam cara:

Cara pertama adalah dengan mendapatkan surat rujuk dari RS pertama (Husada) menuju ke RS kedua. Kemudian dokter dari kedua RS harus setuju dan mulai mengadakan komunikasi. Sisi negatifnya prosesnya lama.

Cara kedua adalah cara koboi. Kita bilang kepada rumah sakit kedua bahwa kita akan masuk. Mereka akan siapkan tim mereka di UGD beserta dengan peralatan. Dan kita berkata kepada RS pertama bahwa kita memutuskan untuk membawa pasien pulang. Dari sana kita larikan pasien ke RS kedua. Sisi positifnya yah lebih cepat prosesnya dan tidak bertele – tele.

Namun malam ini kita tidak mengambil keputusan apa – apa sehubungan dengan Rumah Sakit. Sore harinya ko Rudijanto Yap dan om Joko dari grup GPA datang mengunjungi dan mendoakan papi. Bersama dengan ko Rudi adalah doa yang pertama kali diucapkan secara terbuka dan disertai dengan tumpang tangan. Gua bersyukur sekali papi mau didoakan dan semoga Tuhan Yesus menjamah hatinya. Malam itu kamar papi suhunya panas karena AC tidak berfungsi dengan baik walaupun sudah diperbaiki oleh teknisi. Akhirnya kita memutuskan untuk pindah kamar yang lebih baik. Proses pemindahan kamar memakan waktu 1.5 jam, dan bersama dengan para suster, om Denny, keluarga, dan temannya papi kita memindahkan papi ke kamar yang baru.

Gua sangat bersyukur sekali dengan tuntunan Tuhan pada hari ini. Segala sesuatu terjadi begitu rapi dan tepat pada waktunya. Malam ini pula SMS dari keluarga SOS mulai membanjiri HP gua. Gua percaya bahwa Tuhan Yesus memegang kendali sepenuhnya. Terpujilah namaNya !


Ditulis oleh Handy Tirta Saputra
Terima kasih kepada panoramio.com atas fotonya.
Segala hormat, pujian, dan kemuliaan bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

ARTIKEL LAIN YANG TERKAIT:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *