Dipanggil Untuk MEMBERI

Memberi

Beberapa waktu yang lalu pada tahun 2011 aku mendengarkan sebuah rekaman khotbah mengenai “panggilan hidup” yang dibawakan oleh pendeta Kong Hee dari City Harvest Church di Singapura. Dikatakan di sana bahwa ternyata Tuhan sudah menanamkan benih panggilan hidup kepada masing – masing kita jauh sebelum kita sendiri menyadari akan panggilan tersebut. Sebagai contohnya adalah pastor Kong Hee sendiri, jauh sebelum dia mengenal Tuhan secara pribadi, ketika kecil dia adalah seorang anak yang menyukai KEBENARAN dan KEADILAN. Walaupun bertubuh kecil dia tidak takut berdiri bagi kawan – kawan yang dikerjain oleh anak – anak nakal di sekolahan. Ternyata benih menyukai kebenaran dan keadilan tersebut yang perlahan – lahan membawa Kong Hee sampai kepada panggilan hidupnya sebagai salah satu hamba Tuhan yang sekarang ini dipakai secara luar biasa untuk menjangkau generasi muda di Asia.

Victor Yue
Victor Yue

Contoh yang kedua adalah salah satu pembimbing rohaniku, Victor Yue. Jauh sebelum dia bertobat dan masih terlibat sebagai anggota gang, dia suka memberikan PERHATIAN KEPADA ORANG – ORANG YANG TERBUANG. Sekarang Victor dipakai sebagai hamba Tuhan di jalanan (street preacher) yang telah menolong begitu banyak orang terhilang yang sulit dijangkau oleh gereja dan dianggap sampah oleh masyarakat.

Setelah aku mendengar kotbah yang dibawakan oleh pastor Kong Hee, aku pun bertanya kepada Tuhan… apa sih panggilan hidupku. Dan ketika aku bersaat teduh pada suatu malam… Tuhan kita yang baik memberitahuku melalui Roh Kudus. Ada suatu suara yang teguh dan pasti… yang membuatku begitu yakin lebih yakin daripada mendengarkan pikiranku sendiri… sebuah suara yang sulit aku jelaskan karena memang sulit diungkapkan dengan kata – kata. Suara itu dengan nada lembut berkata…panggilan hidupmu adalah MENJADI SEORANG PEMBERI (GIVER).

Terus terang aku tidak merasa begitu istimewa ketika mengetahui panggilan hidupku. Sampai suatu hari aku bertemu dengan ko Jimmy di pertemuan Full Gospel ketika dia transit dari Melbourne ke Jakarta. Ko Jimmy bilang ke aku… kesuksesan seseorang yang paling tinggi adalah ketika ia mampu mendengar suara Tuhan, tahu apa yang Tuhan mau ia lakukan, dan dengan taat berhasil melakukannya. Saat itu aku baru menyadari… kalau aku memfokuskan setiap nafas hidupku kepada tujuan hidupku ini sebagai seorang pemberi… maka aku akan mampu menjalani hidup ini sepenuh – penuhnya (living to the fullest) dan tanpa penyesalan (no regret)… bukankah kehidupan seperti ini yang bermakna ? bukankah kehidupan seperti ini yang setiap orang cari ? Dan bukankah demikian kehidupan Tuhan Yesus ? Dia memfokuskan 33 tahun hidupNya kepada suatu tujuan… yakni SALIB.

Pdt Handoyo Gunawan Dan Istri

Menjadi seorang pemberi… kesannya sederhana dan umum.Ternyata beberapa hamba Tuhan yang lain seperti bapak Handoyo Gunawan dan seorang hamba Tuhan lainnya kalau tidak salah Paul Washer juga mengakui bahwa panggilan hidup mereka sangatlah sederhana (simple) yakni sebagai seorang penolong (HELPER). Ada juga beberapa saudara seiman lainnya yang menemukan panggilan hidupnya sebagai pengajar, pemerhati, dan sebagainya. Ketika aku mendengarkan soal panggilan hidup mereka, aku semakin diteguhkan mengenai panggilan hidupku sebagai seorang pemberi (giver).

Dalam kotbah yang dibawakan oleh pastor Kong Hee dikatakan bahwa Tuhan sudah menanamkan benih panggilan hidup di dalam diri kita sejak lama. Karenanya aku mencoba menelusuri jejak – jejak di dalam diriku mengenai hal memberi… dan dengan terkejutnya aku menyadari bahwa ternyata TIDAK SULIT UNTUK MENEMUKAN BENIH – BENIH SOAL MEMBERI DI DALAM DIRIKU. Maaf sebelum lanjut aku mau jelaskan… aku bukan mencoba menyombongkan diri. Ada perbedaan besar antara menemukan sesuatu di dalam diri yang sudah ada (self discovery) dan menggunakan sesuatu untuk mengangkat jati diri (meninggikan diri). Dan aku pastikan motivasiku bukan untuk hal yang kedua :).

Aku lanjutkan ya…Kemudian Roh Kudus yang baik mengingatkan aku… jauh sebelum aku bertobat… ketika aku masih kelas 1 SD mamiku pada saat itu memberiku uang jajan 150 rupiah setiap harinya. Uang tersebut cukup untuk membeli makanan di kantin pada saat jam istirahat sekolah. Suatu hari entah kenapa mamiku memberikan uang jajan 1,000 rupiah di muka untuk satu minggu. Aku ingat dia memberikan kepadaku pada sore hari dan beberapa jam kemudian dia mengajakku untuk ikut belanja di daerah Pancoran (chinatown kota). Dan tanpa sengaja uang 1,000 rupiah yang mami kasih terbawa olehku di dalam kantong celana.

PengemisSaudara yang tinggal di Jakarta pasti tahu keadaan Pancoran seperti apa. Pada waktu itu Pancoran ada banyak sekali pengemis di jalanan. Aku dan mami berjalan menelusuri sebuah jalan kecil dan kulihat seorang pengemis tuna wicara (tidak dapat berbicara). Entah kenapa saat itu hatiku timbul belas kasihan dan kurogoh kantung celana. Kuambil 1,000 rupiah tersebut, kulipat – lipat jadi kecil, dan kugenggam sehingga tidak kelihatan dari luar. Aku kemudian menghampiri pengemis tersebut ketika mami sedang belanja dan memberikan uang yang aku genggam kepadanya. Pengemis tersebut kemudian membuka lipatan uang dan ketika ia melihat 1,000 rupiah dia terlihat begitu terkejut dan mencoba mengucapkan terima kasih sebisanya dengan suara yang sedikit aneh karena tuna wicaranya. Mungkin dia merasa terkejut mendapatkan 1,000 rupiah dari seorang anak SD kelas 1. Aku sendiri ketakutan mami tahu aku memberikan uang kepada pengemis tersebut, dan kukasih kode ke pengemis itu untuk diam.

Selama beberapa hari setelah aku memberikan uang tersebut aku tidak jajan maupun membeli makanan di sekolah. Aku hanya minum air dari botol minuman yang kubawa dari rumah. Tetapi aku ingat betul ada rasa damai dan sukacita di dalam hati aku pada saat – saat itu. Hal itu juga tidak membuat aku jera dalam memberi. Aku ingat aku suka menabung uang receh. Sisa uang jajan yang tidak terpakai aku kumpulkan di dalam tas sekolah. Saking banyaknya uang receh, kalau aku berjalan selalu terdengar “kercing – kercing” karena uang logam yang saling beradu. Uang tersebut sengaja aku simpan dengan tujuan untuk diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Entah itu untuk sumbangan orang tua teman yang meninggal, guru yang sakit, atau yang paling sering adalah sumbangan PMI (Palang Merah Indonesia). Setiap kali ada momen untuk menyumbang maka aku kosongkan tabungan di tas dan kuberikan dengan suka cita.

Menggunakan uang di tempat yang salah

Kebiasaan suka memberi ini yang terus kulakukan tidak hanya memberi dalam bentuk materi, tetapi aku juga suka membagi pengetahuan. Sewaktu SMA, aku dan beberapa teman yang berbeda – beda sekolah membentuk perkumpulan belajar dengan tujuan untuk saling berbagi ilmu. Aku senang sekali kalau hari itu adalah giliran aku untuk berbagi. Dan sampai aku kuliah aku masih memiliki sifat suka memberi baik materi maupun non materi kepada saudara – saudara yang membutuhkan. Namun sayangnya kebiasaan tersebut berhenti setelah aku kerja dan bisa menikmati penghasilan sendiri… well… sebenarnya sih memberi… tetapi aku memberi (menyetor) kepada tempat dan orang yang salah hehehe… saat itu aku terjerumus dalam kebiasaan pesta pora dan kehidupan malam.

Dan sampai kepada tahun 2011 yang lalu ini ketika aku mendengarkan khotbah pastor Kong Hee mengenai panggilan hidup. Aku kemudian bertekad untuk kembali melanjutkan kebiasaan MEMBERI yang sudah bertahun – tahun tertunda. Aku mulai memberikan uang jerih payah aku untuk pelayanan – pelayanan beberapa hamba Tuhan, membantu saudara – saudara seiman yang sedang kesulitan keuangan, rekan – rekan bisnis di Singapura serta Malaysia yang sedang mengalami kesulitan pemutaran uang, dan juga aku bantu mendukung usaha bisnis beberapa saudara – saudara seiman. Awal – awalnya memberi itu yah mudah bagiku, tetapi lama – kelamaan tabunganku mulai berkurang, pemberian yang terbesar itu adalah untuk membantu rekan bisnis seiman yang sedang kesulitan memutar uang. Aku tahu betul bahwa kalau aku bantu mereka maka pembayarannya akan tersendat – sendat, namun setelah berdoa dan minta petunjuk dari Tuhan, aku menemukan damai sejahtera untuk membantu mereka. Sampai saat tulisan ini aku buat, rekan – rekan bisnis tersebut masih menyicil membayar pinjaman yang aku berikan setiap bulannya.

Walaupun aku banyak memberi pada tahun 2011, aku lupa menjaga keuangan untuk diriku sendiri. Meski aku merasa damai suka cita yang luar biasa, uangku di tabungan itu benar – benar menipis dan mengkhawatirkan. Sampai seorang saudara seiman minta pinjaman 300 sing dollar aku tidak bisa berikan karena aku sedang memasuki masa “survival” sampai gaji bulanan berikutnya datang. Itulah proses yang aku alami selama beberapa bulan pada tahun 2011.

Suatu hari Minggu, tanggal 6 November 2011. aku dibangunkan oleh ci Mulya untuk ke gereja NDFI. Seperti biasa aku selalu bangun kesiangan kalau hari Minggu karena Senin sampai Sabtu biasanya sudah kecapekan. Ketika di kamar mandi, Roh Kudus berbicara dengan jelasnya ke dalam hatiku “berikan 1,000 sing dollar untuk perkumpulan Full Gospel (FGBMFI)”. Nah ada 2 hal yang timbul di dalam pikiranku. Yang pertama… aku protes sama Roh Kudus… ngapain sih ngasih uang ke perkumpulan bisnis man… ini kan semua para pengusaha … mereka adalah orang – orang yang punya uang… ngapain kasih ke perkumpulan ini. Yang kedua… ya Tuhan karena dalam “survival mode”… 1,000 dollar di tabunganku juga tidak ada. Teman – teman bisnis masih belum bayar hutang – hutang mereka kepadaku pada saat itu. Namun aku katakan kepada Roh Kudus “aku mau belajar taat. Namun saat ini aku tidak ada uangnya. Kalau aku ada 1,000 sing dollar maka aku akan berikan kepada perkumpulan Full Gospel”.

Kebaktian NDFI

Pada pagi hari itu pembicara di gereja NDFI adalah pendeta Asen Suhendra dari Lombok. Beliau berkhotbah mengenai apa yang membuat kita menjadi dingin. Di dalam hati kukatakan kepada Tuhan ada 2 hal yang mebuatku dingin, yakni mengenai pasangan hidup dan mengenai masalah keuangan. Berhubungan dengan masalah keuangan, aku bukannya kekurangan, tapi aku merasa keuanganku stagnan… begitu – begitu saja, banyak yang masuk tapi banyak juga yang keluar.

Di dalam satu sesi, pendeta Asen berkata kepada jemaat “di antara saudara sekalian ada yang sedang mengalami pergumulan ekonomi, dan saat ini sedang minus. Saya ingin orangnya berdiri.” Saat itu Roh Kudus berbicara kepadaku “kamu berdiri”. Namun aku masih berargumentasi dengan Tuhan “Tuhan… dikatakan oleh pendeta ini DALAM KEADAAN MINUS, saya mah 1 dollar masih ada di dompet”. Namun karena desakan Roh Kudus begitu kuatnya akhirnya aku menyerah dan berdiri. Setelah berdiri ternyata pendeta Asen menyuruhku maju. Sampai di depan pendeta Asen memintaku untuk membuka dompetku dan menghitung uang yang ada di dalamnya. Saat itu aku ada sekitar 40 dollar Singapura. Singkat cerita pendeta Asen meminta kepada jemaat untuk memberikan persembahan khusus kepada saya. Jujur saudara… aku merasa malu sekali. Kalau aku tahu akan diberikan persembahan… aku sama sekali tidak mau berdiri dan maju ke depan. Namun Roh Kudus yang baik kemudian berkata – kata di dalam hatiku saat aku berada di depan jemaat. KatanyaNya demikian “Di dalam kerajaan Allah ada orang yang RELA MEMBERI dan ada orang yang SIAP MENERIMA. Hari ini Aku mengajarkan kamu untuk menerima“.

Kata – kata Roh Kudus tersebut membuatku termenung dan aku menurut saja. Setelah uang persembahan dikumpulkan dan dihitung… tiba – tiba aku teringat dengan perkataan Roh Kudus pada pagi hari itu yang memintaku untuk memberikan 1,000 dollar Singapura kepada perkumpulan Full Gospel. Aku kemudian berdoa di dalam hati “Tuhan kalau uang yang terkumpul mencapai 1,000 dollar maka aku tahu aku harus memberikannya kepada perkumpulan Full Gospel”. Singkat cerita uang yang terkumpulkan berjumlah 1,100 dollar Singapura. Dan pada siang harinya uang tersebut langsung saya berikan kepada perkumpulan Full Gospel.

Kondisi Gereja Di Kerawang Yang Diasuh Pdt Edy Wagino
Kondisi Gereja Di Kerawang Yang Diasuh Pdt Edy Wagino

Di dalam pertemuan Full Gospel chapter Lucky Plaza berikutnya, kami para pengusaha Indonesia sepakat untuk menggunakan uangnya untuk membantu renovasi sebuah gereja di Kerawang yang kondisinya sangat memprihatinkan. Gereja tersebut melayani kaum menengah ke bawah. Dan terletak jauh dari kota. Para jemaat harus berjalan kaki cukup jauh hanya untuk beribadah di sana. Luas gedung gereja hanya 8 m x 4 m, lantainya masih dari tanah, dan atapnya pun bolong – bolong. Puji Tuhan anggota Full Gospel lainnya juga tergerak untuk memberikan bantuan. Dan total terkumpul 1,620 dollar Singapura. Paling tidak uang tersebut bisa dipakai untuk membeli semen untuk menutup lantai gereja yang selama ini masih dari tanah demikianlah harapanku.

Uang dari Full Gospel disalurkan ke gereja di Kerawang oleh ci Mulya
Uang dari Full Gospel disalurkan ke gereja di Kerawang oleh ci Mulya

Dari 1,100 dollar yang diberikan jemaat NDFI, 1,000 dollar sudah disalurkan kepada Full Gospel, dan masih ada 100 dollar. Aku berdoa tanya mau diapakan uangnya, dan Roh Kudus mengingatkan aku mengenai seorang anak lelaki yang aku kenal. Anak ini berumur 7 tahun dan sejak kecil telah ditinggalkan oleh papanya. Papanya adalah seorang pemabuk dan tidak bertanggung jawab. Seumur hidupnya anak ini hanya bertemu SATU KALI saja dengan papanya dan itu pun dalam kondisi dia sedang mabuk. Mamanya pernah berkata kepadaku, sejak kecil papanya tidak pernah memberikan anaknya hadiah satu pun. Papanya hanya bisa berjanji lewat telepon kepada anaknya bahwa ia akan mengirimkan hadiah ulang tahunnya. Sudah berbulan – bulan lewat dari ulang tahunnya anak itu masih saja terus menunggu hadiah dari papanya. Dan mamanya setiap tahun hanya bisa berbohong dengan membelikan sebuah hadiah dan berkata bahwa hadiah itu adalah dari papanya.

Roh Kudus mengatakan kepadaku untuk memberkati anak ini dengan sebuah mainan dan budgetnya adalah 50 dollar. Aku kemudian jalan – jalan ke Tanglin mall dan membelikan sebuah mainan yang bagus (aku sendiri saja suka hehehe), yakni sebuah Lego Robot dan harganya adalah 45.50 dollar. Keesokan harinya aku berikan hadiah ini kepada anak tersebut dan kukatakan kepadanya “This is from God”. Terpancar suatu suka cita yang luar biasa dari wajah anak tersebut, dan mamanya juga jadi terharu. Wah saat itu aku benar – benar merasakan betapa suka citanya bisa memberi.

Setelah 1045.50 dollar terpakai, masih ada sisa 54.50 dollar. Uang tersebut aku kembalikan kepada gereja NDFI melalui persembahan saat kebaktian di minggu berikutnya.Demikianlah uang 1,100 dollar tersebut dipakai. Pada akhirnya uang 1,100 tersebut yang digunakan untuk renovasi gereja, beli hadiah, dan persembahan kepada NDFI kukeluarkan dengan menggunakan uang dari tabunganku sendiri… Tuhan kita memang punya caraNya yang tersendiri hehehe. Uang kertas serta logam 1,100 dollar yang aku terima dari jemaat masih aku simpan sampai saat ini dan aku bertekad tidak akan memakainya untuk apa pun. Bukannya aku simpan sebagai jimat, tetapi setiap kali aku melihat uang – uang tersebut aku jadi teringat ketika Roh Kudus mengajarkanku untuk dapat menerima dan bahwa aku pernah ditolong oleh jemaat Tuhan.

Uang Dari Jemaat NDFI
Uang Dari Jemaat NDFI Yang Sampai Sekarang Masih Aku Simpan

Aku bersyukur untuk bisa hidup sesuai dengan panggilanku untuk bisa memberi. Kalau dipikir – pikir… MUSTAHIL KITA BISA MENGASIHI SESEORANG JIKA KITA TIDAK BISA MEMBERI. Allah Bapa kita di surga adalah PEMBERI YANG NOMOR SATU DI DALAM HIDUP INI. Dia memberikan segala – galanya kepada kita. Bahkan anakNya yang tunggal saja Dia berikan kepada kita… wah betapa BESAR DAN LUASNYA KASIH BAPA KITA. Bagi saudara yang belum menemukan panggilan hidup, aku mau encourage saudara untuk berdoa bahkan bila perlu berpuasa TANYA KEPADA TUHAN. Setelah saudara menemukan panggilan tersebut yuk sama – sama memenuhinya. Aku juga mau memohon doa dari saudara sekalian supaya aku bisa terus setia di dalam panggilan ini… terus sampai kepada GARIS FINISH.


Ditulis oleh Handy Tirta Saputra – 6 Feb 2012
Segala hormat dan kemuliaan hanya bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

ARTIKEL LAIN YANG TERKAIT:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *