Karya Andero Hidayat: Mendewakan Agama atau Mendewakan Tuhan?

Ini tulisan dari salah satu sohib gua, Andero Hidayat, yang mengajak kita semua untuk berpikir dan merenung.

Agama Di Dunia - PenulisHidupku.Com - 2

Apa pun agama yang kita anut adalah baik bahwa kita beragama. Tetapi, selalu ada kemungkinan bahwa tanpa disadari kita bergeser dari menganut agama menjadi menganut agamaisme. Apa maksudnya?

Sebagai penganut agama, kita melakukan pemikiran tentang Allah. Kemudian kita berpikir lebih konkret dengan merumuskan pikiran dan keyakinan kita dalam bentuk ajaran, peraturan, kebiasaan, upacara, dan sebagainya. Ada kemungkinan bahwa lama-lama kita mulai memutlakkan ajaran, peraturan, kebiasaan, dan upacara itu.

Coba kita merenung sebentar. Siapa atau apa yang kita yakini sebagai mutlak? Yang mutlak hanya ada satu, yaitu Allah sendiri. Allah adalah mutlak dalam arti bahwa Ia adalah segala-galanya, tidak terbatas, tidak boleh tidak ada, definit dan absolut.

Tetapi, apa yang terjadi dalam praktik? Sedikit demi sedikit, setelah sekian generasi, kita mulai menganggap ajaran, peraturan, kebiasaan, dan upacara agama sebagai sesuatu yang mutlak. Ajaran kita bakukan. Peraturan kita berlakukan tanpa boleh ditawar sedikit pun. Pelanggaran kita jerat dengan hukuman. Dengan demikian kita mendewakan agama. Kita bukan lagi memeluk sebuah agama melainkan sebuah agamaisme.

Itu bukan berarti bahwa kita mengingkari Allah. Kita tetap mengimani Allah. Tetapi, kita memberikan kekuatan dan kekuasaan yang begitu besar kepada agama. Kita menganggap bahwa agama adalah mutlak dan tidak bisa keliru. Padahal, bukankah kita mengaku bahwa hanya Allah yang tidak mungkin keliru?

Tanpa disadari kita mengaburkan dan mencampurkan agama dengan Allah. Peraturan yang kita rumuskan kita anggap sebagai peraturan yang dirumuskan oleh Allah. Kita mengidentikkan agama dengan Allah. Padahal, agama dan Allah merupakan dua entitas yang terpisah.

Lebih Mulia

Agama adalah ibarat jendela. Jendela itu ada supaya kita bisa menikmati keindahan pemandangan taman bunga di luar. Kelirulah kalau kita menyamakan jendela dengan taman bunga. Adalah naif kalau yang kita pandangi adalah jendela, padahal pandangan kita seharusnya menembus jendela untuk memandangi taman bunga. Begitu juga kita keliru kalau agamalah yang kita jadikan fokus, misalnya dengan berkonsentrasi pada bagaimana membuat agama lebih mulia dan lebih berkuasa. Bukankah segala kemuliaan dan kekuasaan hanya patut ada pada Allah?

Pemazmur menulis: “Kepada Tuhan, hai penghuni sorgawi, kepada Tuhan sajalah kemulia- an dan kekuatan!” (Mzm.29:1). Sejajar dengan itu ter- tulis, “Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, kepada Tuhan sajalah kemu- liaan dan kekuatan!” (Mzm.96:7).

Keadaan menjadi runyam ketika bukan hanya pemeluk agama A yang memutlakkan agamanya, melainkan juga pemeluk agama B, dan C. Semua mengklaim diri sebagai yang definit dan absolut. Semua mengaku diri sebagai pemegang kunci surga. Semua berlomba memamerkan atribut dan simbol keagamaannya.

Lalu keadaan menjadi lebih runyam lagi kalau kita sebagai pemeluk agama A mau memberlakukan ajaran, peraturan, dan kebiasaan kita ter- hadap publik, ter- masuk pada Saudara-saudara kita yang beragama lain dan Saudara-saudara kita yang tidak beragama. Misalnya, agama kita melarang makan bawang. Lalu peraturan itu kita berlakukan juga untuk semua warung nasi dan restoran. Itu berarti kita memakai parameter dan norma wilayah internal untuk wilayah umum. Itu sama seperti memakai kilogram untuk mengukur jarak, atau memakai kilometer untuk mengukur karung gula dan memakai kilowatt untuk mengukur isi gentong air.

Agamaisme dan mendewakan agama terjadi ketika kita mengidentikkan agama dengan Allah. Yang kita sebut-sebut adalah nama Allah, tetapi yang sebenarnya kita muliakan adalah agama. Kita merasa mengetahui diri dan kehendak Allah, sehingga kita merasa agama kita benar dan agama lain salah. Ketika pemeluk berbagai agama berbuat begitu, maka bertengkarlah mereka. Semua bertengkar demi nama Allah yang sama dan satu itu.

Coba lihat tiga orang buta itu. Mereka cepat-cepat meraba seekor gajah yang sedang lewat. Setelah itu mereka bertengkar. Si A berkata, ” Aku tahu! Gajah adalah binatang pipih!” Si B langsung berteriak, “Kamu keliru. Gajah tidak tipis melainkan bulat mirip batang pohon!” Si C membentak, “Kamu dua-duanya sesat! Gajah mirip se- utas tali!” Keyakinan mereka berbeda karena yang satu meraba telinga gajah, yang lain meraba kaki gajah, dan yang lain meraba gajah ekor gajah. Tetapi, masing-masing memutlakkan keyakinan. Maka bertengkarlah mereka. Gajah itu berlalu dengan heran sambil bergumam, “Ribut-ribut apa itu?

Tulisan hanya pendapat pribadi kalo mau protes silakan tapi jangan angkuh. Tulisan ini merupakan rangkuman dari blog yg saya buat dari tahun 2000 – 2007.

©2007 Andero (Daryl)  Hidayat Production™ section Religion, Social Science, Current Affairs, Communication,  Indonesian and English Literature Department

Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan penjelekan suatu agama, suku dan pemikiran tertentu ataupun pen-agungan terhadap agama, suku dan pemikiran tertentu lainnya.

Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang atau suatu bangsa, bila orang atau bangsa itu sendiri tidak bertekad untuk mengubah dan memperbaiki nasibnya.

One Heritage, One Indonesia


Terima kasih kepada Andero Hidayat atas artikelnya.
Segala hormat, pujian, dan kemuliaan bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *