Diary 9 Jan 2014 – Gua Tidak Sendirian

Semalam gua dan mami tidur di ruang tunggu ICU Rumah Sakit PIK (Pantai Indah Kapuk) dengan tidak nyaman. Sebentar – bentar kita terbangun karena bunyi telepon. Kita terus waspada kalau – kalau dokter memanggil pihak keluarga kita karena kondisi papi saat itu masih sangat kritis. Katanya nafas papi masih belum tenang dan tangan serta kaki masih suka bergetar.

Pagi hari ini gua bersyukur semua berjalan dengan baik. Puji Tuhan di ruang tunggu ada Wifi gratis sehingga gua masih bisa contact dengan dunia luar melalui Internet. Di HP dan facebook, gua melihat banyak ucapan dorongan semangat dan juga doa – doa dari teman – teman. Gua sangat bersyukur sekali karena setiap dari ucapan dan doa tersebut sangat memberikan kekuatan dan penghiburan. Tuhan begitu baik dan melalui teman – teman serta keluarga ini gua merasa tidak sendirian.

Penghiburan Teman - Teman - Handy Tirta Saputra - PenulisHidupku.Com - 1

Penghiburan Teman - Teman - Handy Tirta Saputra - PenulisHidupku.Com - 2

Penghiburan Teman - Teman - Handy Tirta Saputra - PenulisHidupku.Com - 3

Penghiburan Teman - Teman - Handy Tirta Saputra - PenulisHidupku.Com - 4

Penghiburan Teman - Teman - Handy Tirta Saputra - PenulisHidupku.Com - 5

Pagi harinya gua dan mami memutuskan untuk kembali ke rumah sebentar untuk mandi, dan mengambil hasil MRI papi yang baru saja diambil beberapa hari yang lalu. Setelah selesai di rumah, kita cepat – cepat kembali lagi ke Rumah Sakit. Dalam perjalanan ke sana kita menerima telepon dari Rumah Sakit yang mengatakan dokter utama ahli bedah syaraf papi mau ketemu dengan pihak keluarga pada pukul 3 sore nanti. Dan pihak rumah sakit menegaskan agar seluruh anggota keluarga harus berkumpul di sana.

Terus terang sempat otak gua ini negatif mikir kondisi yang jelek – jelek. Namun gua tetap mencoba tenang supaya mami gak down juga. Pikiran negatif itu memang sangatlah kuat, sampai gua berkali kali harus berbicara kepada jiwa gua… “jangan takut dan gentar… Tuhan kita itu luar biasa. Dia yang berkata papi akan baik – baik saja, maka papi PASTI baik- baik saja” Terjadilah sesuai dengan FirmanNya, dan imanku. Karenanya setiap kali pikiran negatif itu mulai datang dan gua mulai terhanyut… langsung gua perkatakan perkataan yang membangun agar jiwa gua sendiri gak down. Sungguh gua rasakan bagaimana Roh Allah itu memberikan kekuatan dan memampukan kita untuk medeteksi adanya pikiran negatif secara cepat.

Gua pun menemui papi pertama kalinya setelah dia stroke yang kedua kali ini. Dia masih tidak sadar, dan kondisinya terlihat agak menyedihkan. Mami terlihat iba dan matanya memerah. Gua pun berdoa untuk papi… sambil teringat tanggal 23 desember 2013 yang lalu gua baru membasuh kaki papi dan mami. Saat itu Tuhan memberikan gua keteguhan dan kekuatan. Papi akan baik – baik saja… kalau Tuhan mau panggil dia maka sudah dari kemarin papi lewat. Dari cerita mami… gua cuma bisa melihat bahwa Tuhan sudah merekayasa sedimikian sehingga nyawa papi diselamatkan.

Dalam hati gua berdoa agar Tuhan memperpanjang nafas dan nyawa papi, sehingga dia masih diberikan kesempatan untuk menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat, dan merasakan kehidupan berkemenangan di dalam Dia sehingga hidupnya berbuah. Barulah sesudah itu kalau Tuhan mau ambil silahkan. Demikian gua berdoa seperti anak kecil dalam hati. Memang kita harus berserah, tetapi gua juga gak malu – malu mengutarakan harapakan gua kepada Dia.

Pada pagi harinya gua mengunjungi ie ie Aling (adiknya mami) yang juga dirawat di lantai 5 RS PIK. Seneng juga ketemu dengan om Denny (suaminya ie ie) dan seperti biasa kita bercanda ketawa ketiwi. Untuk sejenak gua terlupa dengan kesusahan gua. Dan selesai jenguk ie ie, Marsela datang juga menjenguk. Gua sangat bersyukur masih ada orang yang care dengan keluarga kita. Marsela ketemu mami untuk pertama kalinya, dan setelah Marsela pulang, mami bilang “anaknya baik”.

Jam 3 saat yang dinanti – nantikan pun tiba. Seluruh anggota keluarga gua ngumpul. Tapi dokternya… ngaret. Teman – teman darii Full Gospel, gereja, dan lainnya terus memantau gua. BB dan whatsapp sibuk. Gua bersyukur dengan mereka sehingga gua tidak ada waktu untuk bengong dan merasa kuatir. Jam 5 sore lewat baru dokternya memanggil kita semua. Dokter Alfred menjelaskan kondisi papi pembuluh otaknya pecah di bagian kiri, dan butuh waktu untuk recovery. Operasi tidak diperlukan dan itu cukup memberikan kelegaan kepada kita semua.

Sesudah itu… kita merasa cukup lega, dan barulah kita masing – masing tahu bahwa dari tadi setiap dari anggota keluarga itu merasa cemas, tapi coba terlihat cool. Gua bersyukur bahwa sesama anggota keluarga kita saling menopang satu sama lain dalam kondisi sekarang ini. Malam harinya gua sendirian lagi di rumah sakit. Lalu datang ci Rita, saudaranya suk Ahon. Dia beragama Kristen dan dia mendoakan papi agar diberikan pemulihan. Kita mengklaim bahwa mujizat kesembuhan dari Tuhan masih ada sampai sekarang. Gua bersyukur Tuhan mengirim orang untuk datang dan mendoakan papi. Papi kemudian terlihat tenang. Ci Rita juga memberikan roti bakso kesukaan gua. Sebelum gua istirahat datanglah William Lie, sohib gua dulu dari Fuji Xerox dan City Harvest. Kita ngobrol – ngobrol banyak hal, dan kehadirannya memberikan gua penghiburan yang luar biasa.

Roti Bakso Henis - PenulisHidupku.Com - 1

Demikian perjalanan gua hari ini. Tanpa Tuhan, keluarga, dan teman – teman… mustahil gua punya kekuatan. Puji dan kemuliaan hanya bagi Dia pemilik dan penulis hidupku.


Segala hormat, pujian, dan kemuliaan bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

ARTIKEL LAIN YANG TERKAIT:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *