Untuk Apa Merasa Malu ?

Satu hal yg saya yakini adalah langkah orang benar selalu dalam tuntutan Tuhan. Sehingga dengan siapa pun yang ditemui, Tuhan pasti punya rencana. 1 jam yg lalu sebelum menulis catatan kecil ini, saya duduk di Pantai Losari Makassar tuk menunggu sunset sambil beristirahat setelah 6 jam PP ke Kabupaten Pinrang tuk menemui 1 calon anak asuh.

Ada begitu banyak pengamen di sepanjang pantai ini. Saya mencoba mengamati mereka. Gitar dan penampilan beberapa diantara mereka cukup “berkelas”. Berbekal rasa penasaran, saya mencoba mengajak beberapa diantaranya utk bicara. Rasa penasaran saya akhirnya terjawab. Ternyata mereka adalah mahasisawa yg sering mengamen di saat uang kiriman dr kampung halaman habis atau hanya sekadar mencari uang tuk kuliah mereka.

“Bagaimana reaksi mereka kalau ada teman kampus yang lihat?” Jawaban mereka dpt sy simpulkan seperti berikut: Ngapain malu. Kitakan menjual suara. Kalau dikasih beryukur. Kalau nga dikasih recehan jg bersyukur. Pelajaran sore ini yg saya dapat adalah KEMAUAN besar mengalahkan rasa malu. Tidak perlu gengsi tuk melakukan sesuatu selama itu “halal”.


Terima kasih kepada saudaraku Dewa Klasih Alexander atas renungan ini dan yang selalu memotivasiku melalui BBM – 28 Januari 2012
Hormat dan kemuliaan hanya bagi Dia, Tuhan Yesus Kristus
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *