Sampah Masyarakat Bagian 1: MENCOBA Memahami Pengemis Jalanan Dan Apakah Kita Harus Perduli ?

Pengemis Jalanan
Di dalam hiruk – pikuk kehidupan kota setiap harinya kita sibuk dengan urusan dan bisnis kita masing – masing. Dalam perjalanan menuju ke kantor atau tempat usaha, seringkali kita mengabaikan keadaan di sekeliling kita. Di otak ini cenderung hanya berpikir mengenai GUA, GUA, GUA, AKU, AKU, AKU dan SAYA, SAYA, SAYA… itulah yang kalau mau jujur dikatakan telah menjadi prioritas kita sehari – hari. Padahal kalau kita mau jeli melihat… ada banyak sekali hal – hal di sekeliling kita yang memprihatinkan dan membutuhkan peran serta kita sebagai anggota masyarakat, dan terlebih lagi sebagai duta besar Kerajaan Allah di bumi ini.

Mengenai masalah sosial. Saya bukanlah seorang yang ahli dalam bidang ini. Saya belum pernah melakukan sebuah studi yang mendalam, dan bahkan saya juga belum menemukan kesempatan untuk mewawancarai banyak orang yang terlibat secara langsung. Tetapi saya rindu menuangkan pemikiran saya walaupun belum tentu semuanya benar. Semoga fakta ini tidak mengendorkan keinginan saudara – saudara yang baik sekalian untuk membaca tulisan saya di bawah ini. Hormat dan puji hanya bagi Tuhan kita.


Pagi ini di sebuah gang yang sempit dalam lingkungan rumah petak, segerombolan orang mulai berangkat kerja… mereka tidak berdasi; tidak mengenakan kemeja ataupun celana panjang yang telah disetrika dengan rapi. Bahkan sepatu yang bersih saja mereka tak pakai. Yang menempel di tubuh mereka adalah sebuah pakaian lusuh kotor dan mereka berjalan kaki beralaskan sandal jepit. Ada yang sendirian membawa tongkat sambil jalan tertatih – tatih. Ada yang harus dituntun oleh orang lain karena mereka buta. Ada pula yang sambil menggendong anak kecil. Siapakah mereka ? Mereka adalah pengemis ibu kota… yang sama dengan kita juga hendak mencari makan dan rejeki di tengah – tengah kesibukan kota yang akan segera dimulai. Itulah permainan kehidupan di kota kita dimana setiap orang memainkan perannya masing – masing. Suatu dinamika yang penuh warna yang menarik untuk kita simak dan renungkan di dalam perjalanan iman kita.

Pengemis Jalanan

Kalau jujur mau saudara katakan… apa sih yang ada di benak saudara ketika melihat seorang pengemis jalanan ? Saya yakin tidak sedikit dari kita yang memandang rendah mereka… dan tidak sedikit juga yang merasa berbelas kasihan. Hanya untuk sekedar menstimulasi pemikiran saudara…tahukah saudara bahwa secara penghasilan para pengemis ibu kota bepenghasilan cukup lumayan ? Anggap saja pengemis ini bekerja di sebuah lampu merah yang ramai dengan kendaraan bermotor. Kita coba hitung yuk berapa penghasilan mereka:

Mari kita asumsikan secara rata – rata setiap 2 menit mereka menghasilkan 3,000 rupiah. Penghasilan sejam = 30 x 3,000 rupiah = 90,000 rupiah. Anggap mereka kerja selama 8 jam sehari sama seperti kita, maka penghasilan sehari = 8 x 90,000 rupiah = 720,000 rupiah. Dan kalau mereka libur pada hari Sabtu dan Minggu. Satu bulan rata – rata ada 22 hari maka setiap bulannya mereka membawa pulang penghasilan = 22 x 720,000 rupiah = 15,840,000 rupiah (sekitar 2,200 dollar Singapura) BEBAS PAJAK ke pemerintah.

Walaupun hitungan di atas mungkin tidak akurat karena harus ada setoran kepada para mafia pengemis… my point is…bisa kita lihat bahwa seorang pengemis pun memiliki potensi berpenghasilan lumayan setiap bulannya. Saya pernah dengar dari saudari seiman saya, cici Lulut, katanya di Indonesia kalau gak salah di Bali, ada satu perkampungan di mana seluruh penduduknya bermata pencarian sebagai pengemis yang diteruskan turun temurun. Seorang teman saya juga mengatakan beberapa pengemis di Indonesia itu ternyata banyak yang hidup berkecukupan. Mereka punya rumah yang layak, berisi dengan perabotan yang memadai, bahkan mereka memiliki sepeda motor. Ironisnya keadaan pengemis jalanan yang beruntung ini jauh lebih baik daripada kebanyakan buruh pabrik di Indonesia.

Jadi apakah menjadi seorang pengemis itu enak ? Kalau dipikir – pikir profesi ini sebenarnya merusak kesehatan. Karena sering para pengemis harus mengemis di daerah yang kotor dan kumuh. Asap kendaraan bermotor dan debu juga harus mereka hirup setiap harinya.

Walaupun secara statistik saya yakin masih banyak para pengemis yang benar – benar menderita, setelah mengetahui beberapa informasi di atas mengenai kehidupan pengemis di Indonesia harus saya akui cara pandang saya terhadap mereka berubah, namun puji Tuhan itu tidak merubah keprihatinan saya kepada mereka. MUNGKIN… sekali lagi saya katakan… MUNGKIN… kita harus bersikap seperti Yohanes dan Petrus, yang diperhadapkan kepada seorang pengemis yang meminta sedekahan. Kedua rasul ini berkata dengan lantang “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” – (Kisah Para Rasul 3:6).

Pengemis Jalanan

Sudah saatnya kita melihat masalah pengemis LEBIH DARI sekedar masalah keuangan… karena BELUM TENTU sebenarnya itu alasan mereka mengemis. Mungkin selama ini kita menghadapi masalah ini dari sisi yang salah. Masalah mendasar yang menurut saya harus ditangani adalah pola pikir (mind set). Hidup ini kan sebuah pilihan, tapi apa benar sungguh – sungguh setiap dari mereka memilih dengan sukarela tanpa paksaan untuk menjadi pengemis ?

Memang banyak yang menggeluti profesi ini karena pengaruh keterbatasan yang mereka miliki seperti cacat tubuh. Namun opini ini bisa juga kita perdebatkan, karena saya juga melihat banyaak orang cacat tetap bekerja dengan aktif di dalam bidang masing – masing. Dan tidak salah juga kalau kita melihat memang banyak dari para pengemis merasa hidup mereka nyaman. Secara psikologis manusia memiliki kecenderungan menyesuaikan diri. Suatu penderitaan tidak lagi membuat seseorang menderita setelah lama dilalui. Sama seperti bangsa Israel yang selama berpuluh – puluh tahun menjadi budak bangsa Mesir… mereka merasa hidup mereka “nyaman” sebagai budak.

Para pengemis ini mungkin menyadari bahwa profesi mereka ini tidak membutuhkan banyak skill dan kerja keras otak. Jadi apakah pendidikan adalah keterbatasan yang mereka alami ? Saya yakin alasan ini cukuplah akurat, walaupun juga tidak 100% benar. Saya lebih condong kepada pemikiran bahwa seseorang terus – menerus memilih menjadi seorang pengemis karena pola pikir (mindset) yang mereka anut. Tanpa cepat – cepat berkesimpulan apakah pola pikir mereka benar atau salah, mari kita lihat secara makro dari lingkup sebuah bangsa dan negara. Pemerintah negara mana pun menanggapi masalah pengemis adalah masalah sosial yang harus ditanggulangi. Bahkan tidak jarang kita melihat sebutan SAMPAH MASYARAKAT di banyak media massa.

Pengemis Jalanan

Saya cuma bisa berasumsi… MUNGKIN… sekali lagi MUNGKIN… para pengemis itu memiliki pola pikir (mind set) KETIDAK BERDAYAAN dan LETIH UNTUK BERJUANG. Yang pada akhirnya malah berujung menjadi beban negara.  MUNGKIN… sekali lagi MUNGKIN… pola pikir mereka jauh lebih lugu dari yang kita kira…. MUNGKIN… hanya sekedar memenuhi nafkah kehidupan keluarga mereka. Mungkin saja saya salah, namun apa pun itu pola pikir mereka menurut saya seseorang harus teraspirasi menjadi seorang manusia yang produktif dan bertanggung jawab. Mantan boss saya di Singapura, Ms. Elizabeth Lim pernah mengatakan… orang yang bertanggung jawab adalah orang yang tidak membuat orang lain repot atau susah. Dia harus berpikir dahulu apa efek perbuatannya terhadap orang lain sebelum ia melakukan sesuatu. Itu adalah cara pandang yang sangat sederhana dari dia yang menurut saya ada benarnya juga.

Seperti yang saya bahas secara singkat di atas, misi mengubah pola pikir adalah sebuah misi jangka panjang yang membutuhkan banyak kerja keras, ketekunan, dan kesabaran. Dibutuhkan sebuah kasih dari Tuhan di atas untuk memampukan seseorang untuk mengemban tugas ini. Pada dasarnya kita adalah manusia yang cenderung tidak mau repot. Adalah jauh lebih mudah untuk memberikan sedekahan atau menyuapi mereka dengan sembako bukan ? Jangan salah paham… saya tetap percaya menolong mereka dengan cara yang praktis untuk memenuhi kebutuhan jasmani mereka memang sangat penting. Bahkan Tuhan Yesus dalam mujizat – mujizatNya pun membantu kumpulan banyak orang dengan cara – cara tersebut (menyembuhkan penyakit, memberikan makanan, dsb).

Thomas Robert Malthus
Thomas Robert Malthus

Tetapi… sebuah pelayanan seharusnya tidak berhenti sampai di sana saja hanya menyelesaikan masalah jangka pendek. Untuk jangka panjangnya sekali lagi dibutuhkan suatu perubahan pola pikir. Tidak hanya pola pikir mereka… tetapi juga pola pikir kita sendiri dalam melihat masalah ini. Mari kita perhatikan SEORANG pengemis… ya cukup satu orang pengemis saja. Apa yang saudara lihat dari dia ? Apakah saudara melihat SATU ORANG ? Atau apakah saudara mampu melihatnya sebagai SESEORANG YANG MEWAKILI JUTAAN ORANG LAINNYA DARI GENERASI YANG AKAN DATANG ? Profesi untuk mengemis BISA DIWARISKAN loh. Dan jika saudara ingat dengan seorang ahli bernama Thomas Robert Malthus yang memiliki teori sumber daya versus populasi… dimana seiring dengan pertumbuhan populasi manusia… akan membutuhkan sumber daya yang semakin tinggi. Jika populasi tidak terkendali tanpa peningkatan sumber daya… maka akan timbul masalah besar yang tidak hanya mempengaruhi ekonomi, melainkan juga sosial budaya. Sama dengan sumber daya, saya berpikir… kalau angka kemiskinan dan jumlah orang – orang yang dicap sebagai sampah masyarakat terus meningkat maka spiral masalah ini akan terus menerus menghantui pemerintah negara mana pun di dunia ini dalam keadaan yang akan semakin bertambah parah, APALAGI JIKA KITA SEBAGAI TERANG DAN GARAM DUNIA TIDAK MELAKUKAN APA – APA.

Sebuah bangsa yang besar seperti China contohnya membutuhkan waktu puluhan tahun (beberapa generasi) untuk membentuk pola pikir kebangsaan China bersatu seperti sekarang ini. Lalu bagaimana kita bisa mengembangkan sebuah pola pikir kehidupan bertanggung jawab dimana semua orang menyumbangkan kontribusi mereka masing – masing bagi kemajuan dan perkembangan ekonomi bangsa kita ini ? MUNGKIN… sekali lagi MUNGKIN… kita harus menaruh harapan kita kepada PENDIDIKAN. Namun pendidikan yang tidak hanya memasuki jiwa, tetapi juga yang memasuki Roh kita. Saya sangat senang berbincang – bincang dengan beberapa saudara seiman seperti Henry Sujaya Lie dan Ferry Chang mengenai peran penting pendidikan. Saya berdoa suatu saat mereka berdua juga dipakai Tuhan untuk melayani di dunia pendidikan dan menjadi terangNya.

Pendidikan Sederhana

Kembali lagi ke topik kita soal pengemis…jika di dalam roh dan jiwa kita sudah dibaharui melalui ketaatan dan hubungan yang intim dengan sang pencipta, saya yakin keadaan kita secara keseluruhan pasti akan diubahkan. Tidak ada salahnya seseorang mencoba untuk melakukan pelayanan ini. Namun masalah pendidikan bukanlah suatu perjuangan yang cukup dilakukan dalam jangka pendek… dibutuhkan suatu konsistensi dan kesabaran yang luar biasa… paling sedikit pelayanan ini harus dilakukan untuk satu generasi. Dan mari kita masuk ke dalam pertanyaan berikutnya. SIAPA YANG MAU MELAKUKANNYA ?  SIAPA YANG MAU MELAYANI ? SIAPA YANG MAU PERDULI ?

Tuhan Yesus dan Orang MiskinSaya suka berpikiran begini… seandainya Tuhan Yesus hidup di jaman ini… apa yah kira – kira yang akan Dia lakukan ? Kalau dahulu saja Dia tidak segan – segan menolong orang – orang yang hina dan terbuang seperti pengindap penyakit kusta… saya yakin pada jaman sekarang ini kita juga akan melihat Tuhan Yesus berdiri di pinggir – pinggir jalan, memasuki gang – gang sempit, berada di bawah kolong – kolong jembatan untuk menolong mereka yang hina dan terhilang. Nah saudara yang baik… kita kan disebut sebagai Little Christ (Kristus Kecil), walaupun Tuhan Yesus ada di surga sekarang, bersama dengan RohNya kita melakukan pekerjaanNya… tangan kita menjadi perpanjangan tanganNya, suara kita menjadi suaraNya, dan segala yang kita miliki adalah milikNya untuk menyelesaikan pekerjaanNya yang besar dan tidak pernah gagal. Benar bukan ?

Kalau sebuah kotoran sapi saja masih bisa diolah menjadi sebuah benda yang berguna. Bagaimana dengan para SAMPAH MASYARAKAT ? Bukankah secara kodrati manusia lebih tinggi dari kotoran sapi ? Ironisnya sering kita rasakan sampah masyarakat dibiarkan saja tergeletak dan hancur sendiri… karena keegoisan banyak orang lebih perduli kepada kotoran sapi karena bisa dijadikan uang ketimbang memperhatikan kaum yang hina dan terbuang.

Jadi jika saudara diijinkan Tuhan untuk membantu satu orang jiwa pengemis… ya tidak banyak… cukup satu saja. Bukankah itu sama saja membantu jutaan jiwa yang akan datang dari keturunan pengemis tersebut ? Coba saudara renungkan hari ini… kalau saudara ada di posisi tersebut… di tempat, waktu, dan kondisi dimana saudara bisa menolong lebih dari sekedar memberikan sembako atau sedekahan… apakah saudara RELA UNTUK MELAYANI SEORANG SAMPAH MASYARAKAT ? Sebuah sampah masyarakat saja sudah terpandang hina… apakah saudara rela dipandang lebih hina dari mereka dengan menjadi pelayan sampah ? Mungkin awalnya hanya duduk dekat mereka, bergaul, dan secara perlahan mencoba mengerti siapa mereka, sambil mulai menabur kasih Yesus. Saya yakin… ketika kasih Tuhan dan Firman kebenaran itu masuk… maka cepat atau lambat akan terjadi sebuah perubahan di dalam hidup orang yang kita layani.

Pada akhirnya… MUNGKIN… sekali lagi MUNGKIN… kita sebagai anak – anakNya telah memiliki jawaban atas masalah sosial dunia ini. MUNGKIN… sekali lagi MUNGKIN… yang dibutuhkan hanyalah sebuah keperdulian. Silahkan direnungkan 🙂

Matius 25:4 – “…Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”

Terang Dunia


Ditulis oleh seorang amatir, Handy Tirta Saputra – 9 Februari 2012
Segala hormat dan kemuliaan hanya bagi Dia, Tuhan Yesus Kristus, yang kita kasihi dan taati.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

2 thoughts on “Sampah Masyarakat Bagian 1: MENCOBA Memahami Pengemis Jalanan Dan Apakah Kita Harus Perduli ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *