Ketika Kita Mencintai Dosa Lebih Daripada Tuhan

Bujukan Dosa - PenulisHidupku.Com - 1

Pernah judul artikel ini terjadi di dalam hidup gua, dimana gua dengan akal sehat sengaja mencintai dosa lebih daripada Tuhan, walaupun sudah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat dan sudah dibaptis. Gua percaya gua nggak sendirian, dan ada ribuan mungkin jutaan orang di luar sana juga pernah mengalami hal yang sama. Inilah fase yang dinamakan backslide atau bahasa Indonesianya menyimpang atau lari dari Tuhan. Dosa itu bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan saat gua memilih untuk mencintai dosa maka gua dengan akal sehat sengaja melawan Tuhan. Apakah itu salah ? Tentu saja.

Tetapi kenapa saat itu masih mencintai dosa saat gua tau itu salah. Mungkin jawaban yang jujur ada 2 yakni:

  • Dosa itu nikmat
  • Gua tahu Tuhan pasti akan ampuni gua kembali, jadi tidak apa – apa gua sengaja “cuti” dari jalan – jalanNya (menganggap murah pengampunan Tuhan).

Walau kita dengan sadar berdosa, bahkan mencintainya, pertempuran 2 suara di dalam diri selalu terjadi ketika kita memutuskan untuk berbuat dosa. Entah gimana kita dengan akal sehat tahu bahwa kita melakukan dosa, dan bahwa itu adalah salah. Seperti kita tahu racun itu berbahaya namun sengaja meneguknya karena racun tersebut terasa manis.

Yang gua mau sharing adalah efek dosa itu tidak terlihat dari luar, tetapi di dalam diri kita terasa seakan ada yang menggerogoti. Dosa akan terus mendorong kita melakukan dosa lagi, terus menerus beranak cucu, sehingga kita berjalan dari dosa kepada dosa. Bahayanya ada dosa yang membawa kutuk sehingga kehidupan kita akan semakin lama semakin parah. Mungkin secara materi, dan secara fisik kita tetap baik – baik saja bahkan mungkin juga semakin diberkati. Tetapi yang mau gua katakan adalah secara kejiwaan dan roh, kita sangat – sangat menderita. Ada perasaan tidak tenang, ada perasaan lelah, jenuh, dan kita merasa sesak terperangkap.

Saat jenuh, gua mengobati diri gua dengan dosa sehingga semakin dalam lagi gua terjerumus. Dan hampir mustahil gua bisa keluar dari keadaan seperti itu dengan kekuatan sendiri. Dosa itu seperti oli pekat yang menyiram kita lalu tidak ada satu pun yang bisa membersihkannya entah itu sabun, air, atau apa pun juga. Semakin kita berdosa semakin pekat dan semakin menjijikan diri kita. Lalu kita memakai topeng seakan – akan semuanya baik – baik saja dan menyembunyikan hal itu dari keluarga, teman – teman, bahkan gereja.

Lalu pertanyaannya bagaimana kita bisa keluar ? Bagi gua pribadi, yang membuat gua bisa keluar adalah TUHAN. Inisiatif dan kebaikanNya lah yang MENARIK GUA. Gimana cara Tuhan menarik ? Jawabannya adalah melalui MASALAH. Ada masalah yang begitu besar sehingga gua serasa tidak lagi berdaya, dan saat itulah Tuhan mengirimkan orang – orang pilihanNya untuk menjangkau gua. Masalah begitu pedih, dan berat sehingga memaksa gua untuk menurunkan ego untuk dibantu orang lain. Saat itulah gua diingatkan untuk kembali melibatkan Tuhan di dalam hidup gua.

Seringkali kita harus jatuh ke lubang kelam yang begitu dalam hingga kita tidak berdaya dan terpaksa berteriak dengan sekuat tenaga untuk minta tolong. Tuhan juga dengan kasihNya dan keadilanNya yang tidak bisa dilampaui dengan logika kita juga mendidik kita bahwa ada harga yang perlu kita bayar ketika kita menganggap murah pengampunan Tuhan. Tuhan bekerja dengan lembut namun tegas. Jika dengan bujukan dan teguran halus kita tetap tidak berubah, maka kita akan ditegur dengan keras. Dan kalau masih juga tidak berubah kita akan dihajar bukan karena Dia tukang pukul dan tukang hajar, tetapi karena Dia harus memaksa menarik kita keluar dari sana.

Ketika hidup ini tidak lagi dapat kita mengerti (no longer make sense), berhenti melangkahlah sejenak, dan cek kompas kehidupan kita yang adalah Firman Tuhan. Apakah kita masih berjalan ke arah yang benar ? Atau mungkin kita sudah menyimpang begitu jauh. Itulah sebabnya kita butuh komunitas rohani yang sehat untuk saling mengingatkan, dan yang lebih penting lagi adalah kita harus berani jujur kepada diri kita sendiri ketika kita bertanya kepada pribadi di depan cermin itu “APAKAH KAMU BENAR – BENAR BAIK SAJA ?”.

Tidak ada kata terlambat bagi Tuhan. Dan jika masih tersisa rasa sayang terhadap diri kita sendiri, marilah berkata kepada Dia: “Tuhan tolong aku”. Dan percayalah Dia pasti mendengarkan kita. Lalu relakanlah diri kita untuk diselamatkan olehNya dengan caraNya. Walaupun mungkin rasanya menyakitkan tetapi percayalah bahwa kita pasti sembuh. Bagiamana gua tau itu ? Karena gua pernah mengalaminya. Gua pernah mencintai Dosa daripada Tuhan, tetapi Tuhan membalas pemberontakan gua dengan CINTANYA.


Segala hormat dan kemuliaan kepada Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Ditulis oleh Handy Tirta Saputra pada tanggal 31 July 2016

Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Share on Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *