MATEMATIKA CINTA

Matematika Cinta - PenulisHidupku.Com - 1


Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Share on Twitter

Energi Cinta

Energi Cinta - PenulisHidupku.Com - 1

Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan! (Kidung Agung 8:6)

Ada seorang istri yang selama sebelas tahun tanpa lelah mendoakan suaminya supaya menerima Tuhan Yesus. Apa yang membuatnya setekun itu? Cinta! Ada seorang gadis yang tetap menerima kekasihnya yang mengalami kecelakaan sehingga cacat permanen. Apa yang membuatnya begitu tulus dan tegar? Cinta! Begitulah, cinta memberi energi yang mahadahsyat.

Penulis Kidung Agung mengumpamakan cinta itu maut (Kidung Agung 8:6). Kuat. Ya, bila maut sudah menjemput, tidak ada kekuatan apa pun yang mampu mengelakkannya, apalagi mengatakan tidak atau tunggu. Kalau cinta sudah menyapa, rintangan sebesar apa pun tidak akan menggoyahkan langkah atau melemahkan tekad.

Cinta adalah daya dorong yang sangat ampuh agar kita selalu melakukan yang terbaik, menjalani kegetiran tanpa isak, melalui kepedihan tanpa keluh.

Lalu kapankah cinta itu ada? Ketika Anda menerima kesalahannya karena itu adalah bagian dari kepribadiannya; ketika Anda rela memberikan hati Anda, kehidupan Anda, bahkan kematian Anda; ketika hati Anda tercabik bila ia sedih dan berbunga-bunga bila ia bahagia; ketika Anda menangis untuk kepedihannya biarpun ia cukup tegar menghadapinya; ketika Anda tertarik kepada orang lain tetapi Anda masih bersamanya dengan setia. Cinta adalah pengorbanan; mencintai berarti memberi diri. Cinta adalah kematian atas egoisme dan egosentrisme. Kadang memang menyakitkan, tetapi itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah cinta.

Selamat merajut cinta dalam hati, pikiran, langkah, ucapan, dan tatapan.


Terima kasih kepada pak Ayub Yahya dan Lentera Jiwa atas renungannya.
Segala hormat, pujian, dan kemuliaan bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Diary 21 Mei 2012 – Antara Cinta, Pendidikan, Dan Uang

Cinta - PenulisHidupku.Com - 1Pagi ini gua berbincang – bincang dengan kedua kolega kerja gua di sebuah meeting room sambil menunggu seorang sales manajer bergabung dengan kita untuk membahas sebuah account. Bersama dengan gua adalah Irene dan Kim. Berhubung hari masih pagi, mood kita bertiga masih bagus hehehe. Kim kemudian bertanya ke gua soal pacar, kapan married dan sebagainya. Begitu juga dengan Irene menggoda gua mengenai usaha milik orang tua dan persiapan pernikahan gua.

Gua ingat bahwa perkataan kita tidak ada yang sia – sia, maka sebagai orang beriman kita harus berhati – hati memilih kata – kata yang akan keluar dari bibir mulut kita. Walau gua tidak memiliki pacar pada saat ini, gua berkata “I will get married soon”. Ini adalah iman yang gua ucapkan dan gua percaya Tuhan sedang mempersiapkan diri gua dan tulang rusuk gua agar kita bisa memuliakan namaNya.

Kemudian Irene dan Kim berbincang – bincang mengenai seorang pasangan muda yang mengalami masalah pernikahan. Mereka baru menikah namun pernikahan mereka tidak disetujui oleh orang tua dari pihak sang istri. Mereka berasal dari ras dan agama yang berbeda, kemudian dipicu lagi bahwa sang lelaki memiliki pendidikan yang kurang tinggi dan juga memiliki penghasilan yang kurang tinggi. Orang tua dari pihak perempuan begitu keberatan dan sampai hari ini mereka masih merasa menyesal dengan pernikahan pasangan muda ini.

Dari sana gua melihat bahwa secara realita… urusan pernikahan bukan lagi semata – mata cinta belaka. Ada banyak aspek lain yang juga diperhitungkan oleh para orang tua. Karena mereka sudah merasakan asam garam, maka mereka tahu apa hal – hal penting yang perlu diperhatikan sebelum menjalankan bahtera rumah tangga. Mungkin juga karena lingkungan negara yang serba maju seperti Singapura yang menyebabkan orang memiliki banyak perhitungan sebelum mengambil sebuah keputusan penting… yang jelasnya pertimbangan – pertimbangan seperti inilah dimana cinta, pendidikan, dan uang digunakan sebagai indikator syaratnya pernikahan.

Gua sama sekali tidak menentang pemikiran dan pertimbangan – pertimbangan ini. Karena berhikmat juga berarti memiliki pertimbangan dan mendengarkan nasihat sebelum mengambil keputusan. Tetapi saat ini karena urusan pernikahan adalah masalah yang begitu penting… bagi gua saat ini, gua mau berkonsultasi dengan Tuhan dan firmanNya. Keputusan pernikahan begitu penting bahkan terlalu penting bagi hidup gua… siapa lagi yang bisa gua percaya 100% selain kepada Tuhan penulis hidup gua ini.


Ditulis oleh Handy Tirta Saputra tanggal 21 Mei 2012.
Segala hormat, pujian, dan kemuliaan bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.