Dosa Kekuatiran ~ Oleh Pdt. Daniel Alexander

daniel-alexander-penulishidupku-com-1

Pdt. Daniel Alexander memang seorang pengajar yang baik dan diurapi Tuhan. Saya sangat diberkati oleh Firman yang disampaikan. Puji Tuhan. Firman yang sederhana tetapi sangat dahsyat.

Point – point khotbah:

  • Di dalam hidup ini ada yang bernilai yang sementara dan yang bernilai kekekalan. Seharusnya segala persiapan, dan fokus kita dititikberatkan kepada yang yang kekal. Tetapi banyak dari kita berfokus kepada yang sementara.
  • Matius 5:48 – “Karena itu haruslah kamu sempurna, SAMA seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Tuhan Yesus sangat merindukan kita semua SEMPURNA seperti Bapa di surga. Ini adalah TARGET. SAMA berbeda dengan MIRIP. Kita semua yang percaya kepada Tuhan Yesus harus sampai kepada target ini. Jadi di dalam hidup ini, ada 2 target, yakni yang pertama target yang ditentukan oleh Tuhan agar kita menjadi SAMA dengan Bapa di Surga, dan yang kedua adalah target kebutuhan kita secara pribadi yang sementara. Target yang kekal lebih penting daripada target pribadi kita yang sementara. Mengapa kita tidak berdoa minta sama Tuhan agar segera diproses sehingga menjadi serupa dengan Kristus ? – karena seharusnya inilah yang menjadi fokus kita (lihat target di atas tadi). Jangan pusingin hal yang lain. Asal HIDUP TAKUT AKAN TUHAN dan RAJIN DALAM BEKERJA, pasti hidup kita diberkati. Kalau kita kejar target yang Tuhan mau, pasti hal – hal besar akan terjadi di dalam hidup kita.
  • Dunia punya 3 resep MENJADI KAYA TANPA TUHAN:
    • 1. Dapat warisan tiba – tiba.
    • 2. RAJIN-lah.
    • 3. PELIT-lah.
indra-tamang-penulishidupku-com-1

Indra Tamang, yang menjadi kaya berkat kerajinan-nya.

  • Setan bisa buat manusia kaya. Karenanya jangan melibatkan Tuhan untuk menjadi kaya. Carilah kehendak Tuhan agar menjadi serupa dengan Kristus. Dirubahkanlah setiap kelemahan – kelemahan dan karakter kita menjadi semakin serupa dengan Kristus Yesus. Kalau kita utamakan kehendak Tuhan, percayalah segala sesuatunya akan mengikuti dan ditambahkan. Matius 6: 31 – 34 – ” Sebab itu JANGANLAH KAMU KUATIR dan berkata: Apakah yang akan kami MAKAN? Apakah yang akan kami MINUM? Apakah yang akan kami PAKAI? Semua itu (makan, minum, pakai) dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (kafir). Akan tetapi Bapamu yang di sorga TAHU, bahwa kamu (kita yang percaya) memerlukan semuanya (makan, minum, pakai) itu. Tetapi CARILAH DAHULU (usaha kita yang paling utama) KERAJAAN ALLAH (kuasa Surga) DAN KEBENARANNYA (Firman-Nya), maka semuanya (makan, minum, pakai) itu akan DITAMBAHKAN (bonus) kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”. Makan, minum, pakai itu ternyata cuma bonus, jangan jadi beban utama. Kerajaan Allah dan KebenaranNya adalah yang bernilai kekal dan yang paling penting.. Itulah tujuan kita. Salah satu penyebab sakit asam lambung itu adalah kekuatiran. Kuatir itu MENGHINA TUHAN, karena menganggap Tuhan bodoh dan tidak becus sehingga tidak bisa menolong kita. Banyak yang kita kuatirkan tidak terjadi, itu sebabnya  kita tidak perlu bergantung pada kekuatiran.
  • Kerajaan Surga dimulai dari kehidupan kita di rumah. Pastikan kehidupan rumah tangga kita penuh dengan kedamaian. Sehingga jangan heran kalau setiap apa yang kita kerjakan akan berhasil. Kerajaan Surga itu dampaknya besar sekali dalam hidup kita. Apak itu Kerajaan Allah (Kerajaan Sorga) ? Roma 14:17 – “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal KEBENARAN (renungkan Firman), DAMAI SEJAHTERA dan SUKACITA oleh ROH KUDUS.“. Kerajaan Sorga tidak berbicara mengenai aktifitas rohani, tetapi mengenai kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita.
  • Jangan pusingin dan kuatirin lagi soal bonus (makan, minum, pakai). Kejarlah Kerajaan Allah dan kebenaranNya. Hidup kita akan menjadi ringan, indah, dan menyenangkan.

Segala hormat dan kemuliaan bagi Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Terima kasih kepada Pdt. Daniel Alexander, uploader, dan YouTube atas videonya.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Share on Twitter

Membagikan Kebaikan Tuhan Kepada Orang Lain – Oleh Daniel Alexander

Membagikan Kasih Tuhan Yesus Allah Bapa Allah Roh Kudus - PenulisHidupku.Com - 1

Kotbah dan kesaksian yang dahsyat dari ko Den… benar – benar sangat memberkati 🙂


Segala hormat dan pujian bagi Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.
Terima kasih kepada ko Den, uploader, dan YouTube atas audio khotbahnya.

Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Tuhan Punya Rencana Yang Sangat Besar Bagi Papua

Malam tadi (26 Nov 2014) saya berbincang – bincang dengan seorang hamba Tuhan bernama bapak Freddy Rumy mengenai Papua, wilayah yang begitu istimewa dan kaya. Sungguh di sana yang namanya emas sampai menggunung, dan sudah berpuluh – puluh tahun dieksploitasi oleh bangsa asing tapi sampai hari ini belum habis – habis juga. Dan ternyata yang digali barulah satu gunung dari sekian banyak gunung yang ada di sana. Kawan saya Hendra Gunawan juga menambahkan bahwa ada satu sungai di sana yang memiliki potensi dibangunnya PLTA yang bisa menghasilkan energi listrik untuk mencukupi beberapa negara (bukan hanya Indonesia).

Freddy Rumy - PenulisHidupku.Com - 1Di dalam perbincangan itu pak Freddy menyampaikan bahwa dia terpanggil untuk kembali ke Papua untuk melayani. Sebagai seorang putra daerah, beliau diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk membuka sekolah, dan juga diberikan tawaran untuk menjadi calon bupati di salah satu daerah. Bukanlah suatu kebetulan juga bahwa Tuhan juga sedang menggalakkan berbagai macam pelayanan yang melakukan penetrasi jauh ke dalam kehidupan masyarakat seperti yang dilakukan oleh bapak Daniel Alexander melalui pelayanan sekolah gratis. Pelayanan seperti inilah yang membuka jalan bagi peluang – peluang pelayanan lainnya di masa mendatang.

Daniel Alexander - Pelayanan Pendidikan di Papua - Penulishidupku.com - 1

Bukan juga suatu kebetulah bahwa Tuhan mengirimkan banyak hamba – hambaNya dari berbagai belahan dunia untuk datang dan melayani di Papua. Seperti ibu Suzette Hattingh dan bapak Jim Yost yang mencurahkan hati serta hidup mereka di sana.

Tidak terhitung begitu banyaknya pendoa syafaat yang terus – menerus berdoa bagi suatu kebangunan baik fisik maupun rohani terjadi atas Papua. Dahulu memang banyak pelayanan terlihat terpecah – pecah dan berdiri sendiri sendiri. Tetapi sejah World Prayer Assembly tahun 2012, telah terciptalah suatu kesatuan dalam tubuh Kristus, sehingga kita semua mendapatkan pertajaman visi dan mendapatkan titik temu tujuan yang sama.

World Prayer Assembly 2012 Indonesia - PenulisHidupku.Com - 1

Masyarakat Papua - PenulisHidupku.Com - 1Saya percaya bahwa sumber daya yang terbesar di Papua itu bukanlah kekayaan alamnya yang melimpah, melainkan sumber daya manusianya. Mereka yang sama dengan kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Potensi yang begitu luar biasa, dengan akhlak serta moral yang begitu polos belum terkontaminasi, pasti dapat dipakai luar biasa oleh Tuhan sehingga membuat seluruh dunia terheran – heran. Banyak Putra Putri Papua yang mengharumkan nama daerah dan juga nama negara melalui prestasi mereka yang gemilang juga diakui oleh dunia internasional. Dari tanah Papua pula terlahir para hamba negara yang mengisi kursi kementrian dan juga posisi kepemimpinan yang menentukan arah haluan negara kita yang tercinta ini.

Pola Pikir - Mindset - PenulisHidupku.Com - 1Lebih dari transformasi kepemerintahan, lebih dari transformasi kesejahteraan, lebih dari transformasi ekonomi, lebih dari transformasi sosio budaya… yang menurut saya terpenting adalah dimulai terlebih dahulu dengan transformasi pola pikir. Yang termudah adalah mendefinisikan apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan. Kalau selama ini lebih banyak tidak bisa daripada bisanya, harapan saya adalah akan terjadi sebaliknya. Kita akan bisa bila kita ada kemauan. Kemauan yang bagaimana ? Kemauan yang merindukan adanya suatu perubahan menuju tujuan yang lebih baik.

Saya percaya Tuhan memakai pemerintah yang memimpin Indonesia saat ini menuju ke arah yang sesuai dengan isi hatiNya Tuhan. Pola pikir yang diubahkan tidak bisa menjadi barang simpanan pribadi, tetapi harus dibagikan sehingga terjadi pemerataan. Itu menjadi tanggung jawab setiap dari kita yang mencintai Indonesia. Bila berhasil dilakukan ini hasilnya luar biasa dahsyat. Tidak hanya memberkati kehidupan bermasyarakat di Papua, maupun kehidupan bernegara di Indonesia, tetapi juga memberkati dunia. Saya yakin Papua juga memiliki peran yang penting dalam pemenuhan misi Kerajaan Allah yang hari – hari ini semakin banyak dikumandangkan oleh banyak hambaNya.

Ladang Tuhan Yang Menguning - PenulisHidupku.Com - 1

Kita pun perlu berhikmat, bahwa perubahan pola pikir tidak sama dengan perubahan agama. Saya sama sekali tidak berbicara mengenai Kristenisasi karena itu berada di dalam dimensi agama. Apa yang saya harapkan dan doakan melebihi itu. Saya rindu melihat terlaksananya keinginan serta rencana Tuhan di Papua. Sehingga apa yang Tuhan mau akan termanifestasi di dalam semua aspek kehidupan di Papua. Mata dan hati Tuhan juga tertuju kepada penduduk Papua. Tuhan begitu mengasihi setiap dari mereka, dan Dia punya rencana yang sangat besar bagi Papua.

Mari kita mendoakan Papua. Mari kita berperan aktif. Mari kita arahkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan untuk saudara – saudari kita di sana. Tuhan akan terus bangun kebersamaan dan persaudaraan kita, sehingga di dalam kesatuan inilah Tuhan menggenapi setiap rencanaNya bagi Indonesia. Tuhan Yesus memberkati.

Peta Papua - PenulisHidupku.Com - 1


Segala hormat dan kemuliaan bagi Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.
Terima kasih kepada bapak Freddy Rumy, Hendra Gunawan, Samuel Suryo, dan Dendy Zefanya atas diskusinya.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.
Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Obat Yang Manjur – Oleh Bpk Daniel Alexander (Ko Den)

Daniel Alexander - PenulisHidupku.Com - 1Ribuan tahun yang lalu Firman Tuhan sudah menyatakan bahwa satu-satunya obat yang manjur ialah hati yang gembira, yaitu dalam Amsal 17:22 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Tapi baru akhir-akhir ini dunia kedokteran menemukan Kebenarannya yaitu ketika mereka menemukan bahwa marah, benci, dendam, irihati, kuatir, kecewa, takut, jengkel, putus-asa itu sangat berpengaruh jelek untuk kesehatan. Karena hal-hal itu menjadi ‘makanan’ yg lezat buat sel-sel jahat dalam tubuh kita. Sel-sel jahat tersebut diberi makan maka mereka hidup berkembang biak dan menggerogoti sel-sel sehat sehingga kita menjadi sakit.

Dalam 1 Korintus 6:7 dikatakan oleh Rasul Paulus: “Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu, mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidak adilan, mengapa kamu tidak lebih suka dirugikan?” Itu artinya jangan marah, kecewa, dendam, dll. Bila yang jelek, yang tidak enak, bahkan walaupun dirugikan, terjadi dalam hidup ini tetaplah bergembira. Secara radikal kita bisa berkata bahwa sebenarnya kalau semua manusia bisa dengan mudah menerima semua yang jelek, yang terjadi dalam hidupnya tanpa menyalahkan siapa pun juga maka manusia tidak perlu obat dan dokter. Ketika kita bisa menerimanya dengan penuh ucapan syukur, pasti hidup kita selalu Sehat.

Sekarang kita renungkan Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Artinya kehidupan itu bersumber dari hati yang bersih. Jadi jikalau kita tidak bisa menjaga hati terhadap semua kebencian, kemarahan, kemarahan, kejengkelan, kekecewaan maka dari hati kita terpancar kematian. Inilah sumber penyakit itu.

Mulailah hidup sehat dengan selalu menjaga hati dari semua ‘sampah’ dunia ini sehingga hati kita selalu bergembira, maka pasti kita sehat. Bergembiralah senantiasa dengan cara selalu mengampuni.


Terima kasih kepada Ko Den atas artikelnya.
Artikel ini juga dimuat di dalam tabloid SOS (Sahabat Orang Sakit) edisi 2. Tabloid tersebut bisa didownload secara percuma DI SINI
Segala hormat, pujian, dan kemuliaan bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.

Pelayanan Daniel Alexander (Ko Dan): Menabur Kasih di Ujung Timur

Daniel Alexander - PenulisHidupku.Com - 1Dia tinggalkan kenikmatan pelayanan perkotaan, berjalan mencari jiwa dari desa ke desa dengan kakinya yang selalu bertumpu pada Tuhan. Prinsip hidupnya adalah berbagi, sekalipun dalam hidupnya sudah tidak ada yang bisa dibagikan lagi. Yah, paling tidak berbagi senyum dan keramahan. Itulah Daniel Alexander, pria yang sangat terbeban untuk memajukan daerah-daerah tertinggal dibangsa ini. Bukan memanjukan keimanan semata tetapi juga mencerdaskan mereka.

Rendah hati, sabar dan tenang, demikian pria yang telah menjadi bapak segala suku ini. Senyumnya pun selalu mengembang ketika ia berpapasan dengan siapa saja, entah orang yang sudah dikenalnya ataupun belum. Sorot matanya memancarkan keteduhan, tak heran jika banyak yang betah berbincang dengannya. Semua anak muda yang dekat dengannya, diangkat menjadi anak. Dan nampaknya mereka pun dengan senang memanggilnya, papa, papi, bapak, om, koko dan masih banyak lagi sebutan akrabnya.

Nama Daniel Alexander memang sudah membahana di dunia pelayanan. Sejak ia berkomitmen mengabdikan diri untuk melayani suku-suku terasing di Papua, ia habiskan seluruh kehidupannya untuk berjuang memajukan taraf kehidupan di daerah tersebut. Ia tinggalkan kemampanan hidup di kota besar, bahkan ia pun mengajak istri yang dicintainya untuk pindah dari “negeri kangguru” (Australia, red) ke pulau cendrawasih (Papua) yang pada saat itu masih terbelakang.

Papua jadi pilihan
Daniel Alexander lahir dari keluarga yang pas-pasan, di kota Surabaya pada tanggal 22 Maret 1956. Kedua orang tuanya terbilang cinta Tuhan, maka tak heran jika ia pun mewarisi sifat tersebut. Sejak remaja Daniel sudah giat melayani. Tepatnya ketika ia duduk di bangku SMP dan sudah mengalami pertobatan. Ia sempat berkuliah di Universitas Petra jurusan Sastra Inggris. Pada semester tiga ia berhenti dan memutuskan untuk sepenuhnya pelayanan.

Ko Dan, demikian ia biasa disapa, melayani di kota kelahirannya. Pada waktu itu, tahun 70-an, semangat pelayanan sedang berkobar di sana. Tahun 1980 ia sudah menjadi penginjil keliling, bahkan hingga ke luar negeri. Ia kerap mengadakan kebaktian kebangunan rohani yang sekarang ini populer dengan sebutan KKR. Dan ia pun tergabung dalam PESAT (Pelayanan Desa Terpadu) hingga saat ini.

Di tengah kemapanan pelayanannya, hati kecil Daniel tergelitik dengan kata “sampai ke ujung bumi”. Kala itu ia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kemanakah aku harus pergi?” Tuhan pun berkata, “Jadilah saksiKu dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ujung bumi”. Ia terus merenungkan kalimat tersebut. Lalu ia bertanya pada Tuhan, “Di manakah ujung bumi?”

Hingga suatu hari Daniel mendapat jawabannya. “Saya membaca buku yang sudah cukup tua usianya. Judulnya, From Jerusalem to Irian Jaya. Ketika saya membaca, muncul pertanyaan, Kenapa dari Yerusalem ke Irian? Ada apa dengan Irian? Saya semakin semangat membaca buku tersebut. Dari buku itulah saya memutuskan untuk melayani di Papua. Karena menurut buku tersebut, dan saya yakin, Papua adalah ujung bumi. Kalau sudah tahu ujung bumi itu Papua, kenapa saya harus berkeliling ke daerah lain,” ungkap Daniel antusias.

Sejak menemukan kebenaran tersebut, Daniel memutuskan untuk pergi ke Irian Jaya yang belakangan lebih dikenal dengan sebutan Papua. Pada waktu itu, pulau yang bentuknya seperti kepala burung ini masih sangat primitif. “Tahun 1990 saya ke Wamena untuk mencari data dan survei tempat. Saya langsung jatuh hati dengan pulau tersebut. Papua itu pulau yang besar dan belum tertata dengan baik. Sumber daya alam mereka banyak yang berlum digali karena sumber daya manusianya juga belum dibangun. Melihat keadaan Papua saya semakin yakin bahwa inilah ujung bumi,” terang.

Menabur dengan tulus
Setelah mendapat data yang cukup, Daniel kembali ke Surabaya. Ia mematangkan rencananya dan menyusun strategi yang cocok untuk daerah tersebut. Selain itu, ia berdoa dan berusaha mengumpulkan apa yang dimilikinya untuk dijadikan modal pelayanan. Satu tahun berikutnya Daniel kembali ke Papua dengan membawa benih-benih pelayanan. Dengan strategi pendekatan dengan warga setempat lewat pelayanan diakonia, ia berhasil berbaur dengan mereka.

Daniel mulai mengenalkan kepada mereka membaca dan menulis. Disamping berkotbah, ia juga memberi penyuluhan bagaimana menggali kekayaan alam yang terpendam di daerah tersebut. Dalam waktu singkat, Daniel menjadi sahabat orang-orang Papua khususnya di Nabire. Tahun 1995, ia mendirikan sekolah taman kanak-kanak sekaligus asrama bagi mereka. Rencana ini sempat tersendat lantaran banyak orang tua yang tidak merelakan anaknya tinggal di asrama. Syukurnya, Daniel bisa mengatasi masalah tersebut. Malahan, dari tahun ke tahun, jumlah anak didik mereka bertambah. Bukan saja TK, sekolah jenjang tinggi pun dibangunnya.

Dari satu desa, pelayanannya makin merambah ke desa lain. Dalam waktu singkat, beberapa sekolahan sudah berdiri di sana. Herannya, meski sekolah dibangun di daerah yang minus dan terbelakang, mereka memiliki guru-guru yang berkompeten. Ini bukti, ternyata, Daniel berhasil membagikan visi misinya kepada banyak orang untuk membangun Papua. Harapan Daniel adalah agar putra daerah bisa membangun dan mengelola kekayaan tanah kelahiran mereka yang sudah sekian lama tercuri oleh pihak luar.

Kini Daniel yang didukung oleh tim yang tergabung di Pesat, rindu membangun perguruan tinggi yang juga berasrama. Menurutnya akan lebih efisien jika mereka sekolah sekaligus dibangun karakternya. Ia juga rindu membangun House of Healing. Rumah kesembuhan yang bukan saja ditangani secara medis melainkan juga secara rohani. Saat ditanya apakah ia ingin membangun gereja, dengan tegas hamba Tuhan yang lebih suka melayani lewat kegiatan sosial ini menjawab, “Tidak. Saya tidak terpanggil untuk membangun gereja. Sudah terlalu banyak gedung gereja tetapi pelayanan kasih masih kurang,” jelasnya.

Menurut bapak yang hingga saat ini belum dikarunia keturunan namun tetap bersukacita, melayani bukan saja hanya di dalam gereja. “Ada yang dipanggil untuk melayani di dalam gereja, tetapi saya tidak. Tuhan lebih menginginkan saya melayani secar universal. Masih banyak orang yang harus dijangkau melalui pelayanan kasih yang berwujud, bukan sekedar berdoa. Pelayanan yang mendunia, maksudnya yang bisa dirasakan oleh orang-orang dunia. Salah satunya aksi sosial terjadinya bencana alam,” papar Ko Dan.

Selain Papua yang diyakini Daniel akan mengalami masa kejayaan, masih ada beberapa daerah yang telah dijadikan base camp pelayanan bersama timnya. Seperti; Kalimantan Timur dan Barat juga Sulawesi Tengah.


Terima kasih kepada ko Dan, Kristin, dan terangdunia.com atas tulisannya.
Segala hormat, pujian, dan kemuliaan bagi Dia, Tuhan kita Yesus Kristus.
Untuk memberikan komentar, kritik, maupun saran atas tulisan ini silahkan klik DI SINI.

Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, mohon dibantu untuk membagikannya kepada orang lain dengan cara mengklik FACEBOOK, TWITTER, atau media lainnya di bawah ini.